Arkadia. Diberdayakan oleh Blogger.

Karena Hati Selalu Punya Jalannya Sendiri



Jadi semalam saya dan suami membahas soal mantan-mantan kami. Ini gara-gara postingan #GesiWindiTalk yang bikin saya terpancing, trus bilang ke suami "Yang, aku pengin nulis soal mantan kayak Gesi. Tentang hubungan baik kita sama mantan mantan aku dan mantan mantan kamu. Tapi i want to bring it to the next level: kita nulis berdua!". HAHAHA I LOVE YOU GESI! (kalimat terakhir ini pesenan)

Dimana ada coba suami istri nulis bareng soal mantan? Itukan spesies yang bisa memporakporandakan rumah tangga dalam sekali kedip ya. Kok ya malah dibahas bareng, saya memang rada gesrek ya :))

Mas suami nggak langsung mengiyakan, tapi sepulang kerja, kami diskusi soal ini. Di dapur sambil masak indomie goreng. Awalnya saya cuma ajak dia ngobrol soal hubungan baik kami dengan para mantan, tapi ternyata saya dan suami menjalani obrolan yang jauh lebih sensitif. Kami bicara dari hati ke hati, air mata ke air mata, soal masa lalu kami dan perasaan-perasaan yang belum-dan mungkin-tidak pernah selesai.


**

Di tengah obrolan kami membahas salah satu perempuan di masa lalunya, mas suami bilang, "Kamu gak bisa merampas ingatan tentang dia dari aku. Karena kamu tau kan 'sekeras' apa aku ke dia?"

Sekeras di sini maksudnya soal hati, soal perasaan.

Mas suami dan perempuan ini gak pernah pacaran, mereka bukan mantan. Tapi bagi suami saya, perempuan ini adalah rumah, tempat pulang, mungkin hingga hari ini.

Saya kira saya bakal marah, saya udah berusaha atur napas takut kalau-kalau meledak. Ya istri mana yang bisa baik-baik aja saat suaminya cerita kalau tempat pulangnya dia adalah perempuan lain?

Tapi surprisingly, saya malah tersenyum. Saya nangis, bukan karena cemburu atau marah. Tapi saya lega, lega banget. Karena ternyata di rumah tangga ini, saya gak sendirian. Saya gak sendirian meletakan masa lalu di tempat yang begitu terbuka. Bagian dengan banyak lampu di hati saya, yang bisa saya lihat kapan aja.

Belum lama ini saya ketemu sama masa lalu saya, sama kayak mas suami dan perempuan itu, laki-laki ini juga bukan mantan, kami nggak pernah pacaran. Tapi bisa dibilang dia kasih tak sampai yang hingga tulisan ini diketik, perasaan saya ke dia belum selesai.

Mas suami kenal sama laki-laki ini, sebagaimana saya kenal baik dengan perempuan itu. Mas suami tau betul gimana dulu saya sama terobsesi sama dia.

Lalu setelah ketemu, saya dan masa lalu ini ngobrol singkat via whatsapp, kirim-kiriman foto, dan sampai di titik ini, saya cerita semuanya sama mas suami.

Iya saya cerita, karena buat saya, kami gak ada apa-apa jadi gak perlu ada yang ditutup-tutupi. Saya cerita karena suami saya berhak tau, saya ngapain aja sama laki-laki lain, apalagi laki-laki yang pernah mengisi hati saya.

Tapi satu hal yang saya gak bilang ke suami: saya bahagia banget bisa ketemu dia lagi. Bermalam-malam saya senyum-senyum sendiri menjelang tidur cuma karena saya tau, dia hidupnya baik-baik aja. Saya bahagia liat dia bahagia.

Dan semalam saya memeluk mas suami, sambil nangis sesungukan. Saya akhirnya cerita semuanya. Semua. Saya cerita kalau kemarin itu saya merasa selingkuh, saya bahagia sama masa lalu saya. Saya cerita kalau saya gak pernah membuang dia dari hati saya sedikitpun.

Mas suami senyum dan membalas pelukan saya kencang. Diantara air mata saya, dia nempelin bibirnya ke kuping saya dan bisikin "Kita manusia biasa, sayang. Kita bisa bilang ke semua orang kalau udah melepaskan, tapi kita tetap gak bisa membohongi hati sendiri".

**

Selama ini saya berusaha membuang jauh masa lalu saya, dengan segala cara menyimpan namanya dalam kotak supergelap karena bagi saya, mengingat dia sama dengan selingkuh. Saya punya suami dan harusnya gak ada lagi laki-laki lain di pikiran saya, apalagi di hati. Walau iya pasti gagal, tapi saya selalu berusaha melakukannya. Melepaskan dia baik-baik dari diri saya.

Lalu mas suami bilang, buat apa? Buat apa menyakiti hati sendiri dan membohongi semua orang. Buat apa melepaskan hal yang sama sekali gak bisa pergi dari hati kita. Itu sia-sia dan buang-buang energi. Itu sia-sia dan cuma bikin sakit diri sendiri. Buat apa mengusir pergi hal-hal indah dan membuatnya menjadi rumit. Buat apa?

Cinta itu gak harus memiliki, dan YA, kami menyepakati itu dan sama sama memberlakukannya pada hati kami. Mas suami akan bahagia setiap lihat perempuan itu bahagia, seperti saya bahagia lihat laki-laki itu bahagia. Mas suami sesekali buka sosmed perempuan itu, sekedar untuk tau dia sedang baik-baik aja. Seperti saya tersenyum melihat foto laki-laki itu bersama istrinya melintas di sosmed saya, dan tau bahwa rumah tangganya berjalan mesra.

**

Beberapa kali mas suami 'ketemu' sama perempuan itu, entah dalam bentuk chatting, dia hadir di mimpi, temennya temen ternyata kenal, atau hal-hal di luar perkiraan yang adaaaa aja yang bikin mas suami denger namanya dan mengembalikan dia ke pikiran mas suami.

Sama kayak pertemuan saya dan laki-laki itu, gak pernah saya rencanakan, gak pernah saya cari-cari, tapi adaaaa aja jalannya. Ada aja yang bikin kami harus saling tau dan 'papasan'.

Oke ini lebay. Tapi saya orang yang percaya tentang kekuatan semesta. Bahwa ketika dua orang sudah terpaut hatinya, maka gak akan ada yang memisahkan mereka sekalipun pernikahan. Selama masih menginjak tanah yang sama, menghirup udara yang sama, berada di bawah langit yang sama, maka semesta beserta isinya akan selalu menyambungkan energi antar keduanya.

Itulah mas suami dengan perempuan itu. Dan itulah saya dengan laki-laki itu. Kami akan selalu terpaut, sekeras apapun usaha melepaskannya. Segila apapun daya membohongi diri sendiri. Kami akan selalu 'dipertemukan'. Karena hati selalu punya jalannya sendiri.

**

Tapi saya dan mas suami akan selalu pada rumah tangga ini. Rumah tangga kami. Kami adalah kekasih sehidup semati dan kedua masa lalu itu, gak akan pernah bisa menggantikannya. Karena untuk menjadi istrinya lah, saya dilahirkan oleh Gusti. Dan menjadi bapak dari anak saya, adalah takdir bagi mas suami. Kami bersyukur atas itu dan menjalani itu dengan penuh kasih.

Masa lalu punya tempat sendiri di hati kami, tempat yang terbuka, yang terang, yang istimewa. Tapi mereka akan selamanya menjadi masa lalu.

Jadi es krim yang selalu tersemat sebagai kebahagiaan kecil dalam memori mas suami. Jadi langit yang selalu saya senyumkan kapanpun saya dan laki-laki itu dipertemukan.

Kami gak akan selingkuh dengan mereka, karena bagi kami, mereka tidak serendah itu. Mereka tidak seremeh tempat perselingkuhan. Kami menghormati pernikahan mereka dengan pasangannya, sebesar kami menjaga pernikahan ini. Kehidupan mereka terlalu berarti bagi kami untuk dirusak hanya dengan perselingkuhan.

**


Setelah obrolan panjang penuh air mata dan kelegaan, mas suami mencium kening saya. Jam 3 pagi semalam. Dia bilang,

"Buat aku, dia itu rumah, tempat pulang. Rumah yang selalu aku datangi tapi selalu aku tinggal pergi lagi. Aku nyaman, nyaman banget, tapi kita gak akan selamanya di dalam rumah kan? Kita tetap butuh berpergian.

Dan buat aku, kamu itu surga. Tempat aku ingin kembali, tanpa perlu kemana-mana lagi"

Kami berpelukan, saling mencium dan saya jatuh cinta sama mas suami, semilyar kali lebih banyak dari biasanya.
*** 

Note: Saya tau betul tulisan ini akan jadi penolakan untuk banyak orang, karena pernikahan dan masa lalu, bagi pasangan lain, mungkin bukan hal yang bisa dipaksakan berjalan beriringan. Pun saya yakin, nggak semua orang punya cerita masa lalu seperti saya dan mas suami. 
Jadi kamu, wahai pembaca yang baik, kalau nggak setuju ya nggak perlu menerima ini sama sekali karena bukan untuk itu saya menulisnya. Perlakukan masa lalu dengan cara yang terbaik menurut kamu dan pasangan. Dibiarkan di tempat terbuka, atau ditutup rapat-rapat dalam ruangan supergelap, percayalah pernikahan yang kamu pilih, nggak layak untuk dipertaruhkan. 
Semoga kalian selalu berbahagia sebagaimana kami ya pembaca. MWAH! :*

50 komentar

  1. Alhamdulillaah semesta mendukung. ^__^

    BalasHapus
  2. Ya..hati hati sama hati....sangat mudah sewaktu2 dibolak balik...seperti telur dadar...hahaha...salam mba pungky

    BalasHapus
  3. Kok gw mewek yaaa baca ini .... #BAPER'an

    BalasHapus
  4. Besarnya hati kalian berdua :') Entah kalo aku jd mak pung apa aku siap kalo sampe suami cerita ttg perempuan lain bahkan kd tempat pulang hiks. Tapi ah setiap orang memang berbeda ya

    BalasHapus
  5. Mbak kok ya hebat banget tho...
    bisa ngomongin mantan dari hati ke hati dengan suami.

    BalasHapus
  6. beyond expectation banget ini tulisan. ngarep bakal ngakak malah jadi baper. cih. menyebalkan. malah jadi mewek. iya, akoh cemen. salut sama mbak dan mas yang bisa sangat saling terbuka satu sama lain. semoga Tuhan selalu menjaga ya mbak. salam buat bapake jiwo. kalian emang keren to the max!

    BalasHapus
  7. The real question: memangnya ada cara untuk 'menyelesaikan' perasaan itu sendiri? :')

    BalasHapus
  8. Aku menolak bgt mbak, aku adalah org yg paling benci dengan masa lalunya pak suami... persoalan remeh, aku pernah dibandingkan sama diaaa 😂😂😂

    BalasHapus
  9. Aku ga kepikir tentang mantan lah wong dikasih rasa sakit hehehe tapi mba pung sabar banget yak.. Kalau aku tipe pencemburu.. Apalagi kalau tau ada perempuan lain yang ternyata teman sekolahnya yg ga aku kenal. Aaaahhh.

    BalasHapus
  10. Pungkyyyyyyyyy.... Tulisan iniiii.. ������

    BalasHapus
  11. aku komen ora yaaa? pinjem kotak gelap tak. berlampu baen lah.

    BalasHapus
  12. Yaaah ka pungki kenapa hrs muncul sih ini tulisan, baper kan aku. Hiiiks. Aku jg punya cerita yg tak kunjung selesai, cuma bedanya blm berani diletakkan ditempat penuh lampu kyk ka pungki & mas suami. Msh disimpen rapat2 di tempat tergelap segelap tempat asal voldemort

    BalasHapus
  13. Ini salah satu tulisan paling menohok yg pernah gua baca di blog lu Pung. Kena banget tepat ke hati gua. Gua sekarang udah pacaran 3 tahun sama pacar gua yg sekarang, tapi ya namanya masa lalu itu terkadang masih suka muncul, sampe kadang gua ngerasa kayak selingkuh, walaupun hanya di pikiran doank. Tapi ya kisah-kisah itu kan adanya di masa lalu, dan apapun yg kita lakukan sekarang, tidak akan bisa mengubah masa lalu. Semuanya hanya akan menjadi sebuah tanda tanya, sebuah kisah yang tak pernah selesai.

    Bagaimana cara gua bisa menyikapi itu? Gua juga masih mencari. Untungnya cewe gua gak bisa baca tulis Bahasa Indonesia, jadi sampe sekarang dia ga pernah bacain blog gua hahaha. Gua sering cerita sama dia soal apa yang gua tulis di blog, tapi karena gak baca sendiri, mungkin dia fine-fine aja. Tapi kalo suatu hari dia bisa baca, mungkin reaksinya ga akan sesantai sekarang.

    Mungkin suatu hari gua akan tau jawabannya. Tapi ya tulisan lu ini bener-bener inspiratif. Thank you ya buat inspirasi dan introspeksinya hehehe...

    BalasHapus
  14. Aku tim setuju dengan tulisan ini

    BalasHapus
  15. ealaaah mantab banget bisa sampe tahap ngomong dan duduk bareng. Kalau saya dan pasangan baru sampe tahap "sama-sama tahu" tanpa ada yang mau mulai cerita. saya pribadi sih belum siap nerima cerita2 masa lalu doi. hihihi

    BalasHapus
  16. Tulisannya jadi inget ex, LoL

    BalasHapus
  17. Endingnya romantis bangeet....LAnggeng selalu ya mbak, sama yayangnya :)

    BalasHapus
  18. Entahlah, aku baca ini rosone kemrungsung :(

    BalasHapus
  19. Mba, mau nanya.

    Kan lagi bikin indomie goreng, terus ditinggal ngobrol sama suami dan kamu nangis di pelukannya. Nah abis itu Indomie nya dimakan apa enggak ya? Jujur aku penasaran sama kelanjutan kisahnya.

    Dari Anang Yoga di kamar aja. Makasi.

    BalasHapus
  20. Mbak pungky, silent reader mau komen nih.
    Aku bapeeerr sama endingnya.
    Surga, tempatku ingin kembali tanpa perlu kemana mana lagi.

    BalasHapus
  21. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  22. Perasaan nyebelin setelah baca adalah pengen bisa jujur sama diri sendiri dan pasangan yg sekarang soal masa lalu yg ngga selesai kayak gini juga tapi.... 😂😢😂😢 makasih akhirnya ada yg menuliskan ini! Sukses terus mba pungki!

    BalasHapus
  23. Hal-hal yang belum terselesaikan memang lebih sulit untuk dilupakan.
    (Edga, Maastricht Memory)

    Kisahmu mirip dengan tokoh di novelku, shay! :)

    BalasHapus
  24. kalimat terakhir mas topan, hahaha kalo dia yg ngomong mah pasti tulus

    BalasHapus
  25. Gak tahu harus bilang apa,... sebagai seseorang yg menikah dgn cara dijodohkan, masa lalu serupa mantan kekasih yg kutinggalkan seperti puzzle yg terlepas dan meninggalkan rongga....


    Berbahagialah pung, ketika suami dan istri bisa bicara apa saja dgn terbuka bhkn membahas mantan... itu luar biasa menurutku :)

    BalasHapus
  26. Saya speechless,,, tapi penasaran. Gimana perasaan perempuan itu dan laki-laki itu kalau baca ini. ������ *nggak nemu emot yg cocok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Laki-laki itu pasti baca, karena ada bagian di hatiku yang pengen dia baca. Jadi tulisan ini akan sampai ke dia dengan caranya hehehehe

      Dan aku tau reaksinya akan kayak apa karena aku sangat sangat kenal dia hihi

      Nggak tau ya kalo perempuan itu, belum sempet bahas sama mas suami :D

      Hapus
  27. Waaaahhh.. Ngga tau deh mesti bilang apa..wkwkwk..

    Yang pasti, tak satu huruf pun terlewat lah.. Teteeepp.. :D

    BalasHapus
  28. aku juga senang lihat dia bahagia dengan pasangannya .. tissue mana tissue

    BalasHapus
  29. Kalo aku ga setuju membicarakan massa lalu mantan. Soalnya ga Ada gunanya. Mending ngobrolin mass depan anak. Hehe. Memang sih benar tiap org beda2. Tp Saya lebih menghargai perasaan suami,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe ini kesannya yg aku lakukan gak menghargai perasaan suami gitu yaa. hihihi tapi gapapa, semoga rumah tangganya selalu bahagia ya mbaa ^_^

      Hapus
  30. Kemudian aku tergugu kelu. Sialan, pengen nangis bacanya, tapi cuma nyeri di hati gitu doang. Hahaha. Keren kaaaak!

    BalasHapus
  31. Kak Pungky aahh! Kenapa aku baca ini sih haha. Terus mewek. Ya ampuun. Aku punya kasih tak sampai yang kayaknya gak akan bisa ku lupain seumur hidup (tapi buat bareng-bareng pun gak bisa karena .... ah sudahlah). Tapi abis baca ini aku dapet pencerahan. Pencerahan yang menampar. Haha. makasih ya Kak. Tulisanmu astagaaaa ..

    BalasHapus
  32. Aha! Berbicara mantan itu memang membuat hati ini kdg berdegup kencang yah, krn pasti ada 1 mantan "terindah" yg bikin kita ga bs lupa tp tak bs bersama. Hihihihi.

    BalasHapus
  33. Astagaaa tulisan ini,, Makasih mbak Pungky :*

    BalasHapus
  34. Sejak awal pola pikirku sama kayak bapaknya Jiwo. Masa lalu selalu ada di ruang terang. Teman (cowok) mah banyak smp sekarang. Semuaaa aku ceritakan. Mungkin saking seringnya cerita smp suami bosan kalii wahaha

    BalasHapus
  35. Kalau menurutku, ketika kita memutuskan menikah maka kita harus menyelesaikan semua perasaan dengan mantan kita. Sebab nanti akan terus membayangi kehidupan rumah tangga, nantinya jika kita ada masalah dengan pasangan mau nggak mau, sadar atau nggak sadar kita akan membanding-bandingkan dengan mantan atau masa lalu kita itu.

    Semua orang memang punya pilihan dan aku salut sama kebesaran hati dan kedewasaan kalian dalam menyikapi masa lalu pasangan.

    Btw aku suka sama paragraf ini:

    Kami gak akan selingkuh dengan mereka, karena bagi kami, mereka tidak serendah itu. Mereka tidak seremeh tempat perselingkuhan. Kami menghormati pernikahan mereka dengan pasangannya, sebesar kami menjaga pernikahan ini. Kehidupan mereka terlalu berarti bagi kami untuk dirusak hanya dengan perselingkuhan.

    Paragraf di atas bisa buat reminder siapa saja yang pengin selingkuh he3


    BalasHapus
  36. kekuatan semesta : Bahwa ketika dua orang sudah terpaut hatinya, maka gak akan ada yang memisahkan mereka sekalipun pernikahan. Selama masih menginjak tanah yang sama, menghirup udara yang sama, berada di bawah langit yang sama, maka semesta beserta isinya akan selalu menyambungkan energi antar keduanya.

    Kami akan selalu terpaut, sekeras apapun usaha melepaskannya. Segila apapun daya membohongi diri sendiri. Kami akan selalu 'dipertemukan'. Karena hati selalu punya jalannya sendiri.


    Duhh kak, nyessss.... Baca paragraf itu

    Langgeng selalu rumah tangganya ya kak, aamiin

    BalasHapus
  37. I know How it feels like. Gitu ajah 😁
    Sama2 dewasa, sama2 saling pengertian ajah.

    BalasHapus
  38. Pemikiranmu, pemikiran suamimu sama dengan pemikiranku dan suamiku. Aku membebaskan suamiku untuk mengenang masa lalunya sebagaimana dia membebaskan aku mengenang masa laluku. Bagi kami, mantan bukan seseorang yang harus ditakuti. yang penting hatiku dan hati suamiku tetap bersatu, ciyeeeh. hhaha

    BalasHapus
  39. Aku orgnya cemburuan!!! Mgkn sembuh dimakan waktu. Salut sama kalian, Mbak

    BalasHapus
  40. Well said banget sih mba, q jg punya seseorang di masa lalu yg kisahnya kayak gini, persiiis. Aq jg heran, kenapa dia masiih aja nongol di kehidupanku, kadang makbedunduk ketemu di suatu tempat, jd ingat dl pdhal g janjian ee kami ternyata ujian bareng satu gedung pas masuk ugm, aku bisa liat dy dr belakang, lulusnya jg bareng aq pun bisa liat dia dari kejauhan. Kadang mak jegagik papasan di perpus.
    Hffftt tp q blm berani jujur kayak mb, tapi mas suami tau banget lah perasaanku sampe kalau aq cerita ketemy dia eee malah di cie cie in wkkk

    BalasHapus
  41. Kereen mbak. Aku mana bisa... aku posesif plus cemburuan akut :D

    BalasHapus
  42. duh tadinya ampir sebel sama bapaknya jiwo, tapi liat kalimat2 terakhirnya jadi ehem... klepek2 hehe. sukses terus ya mba.. :)

    BalasHapus
  43. kalian berdua cocok banget, rasional dan mampu memilah mana yang hak dan bukan

    BalasHapus
  44. Yes..
    Suka sama tulisan ini 😊

    BalasHapus