Arkadia. Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Slider

Jiwo Enggak Usah Sekolah!



"Jiwo enggak usah sekolah!"

Satu kalimat yang terus diulang-ulang sama mas suami. Satu, belum lama ini ada anak temannya yang tiba-tiba nyeletuk, "Kata ibu guru, orang kafir itu kan jahat, nggak boleh dijadiin temen. Tapi ini kok tante Bunga (bukan nama sebenarnya) baik ya.". Mas suami bilang sama saya, itu anak kecil umurnya belum lima tahun sudah diajari untuk membenci mereka yang beda kepercayaan. Balita yang belum kenal dunia sudah diajari untuk menghakimi kepercayaan orang lain.

Dua, temennya yang lain curhat, pusing karena anaknya minta liburan. Nggak ada yang salah sama liburannya, tapi jadi mumeti karena anaknya minta liburan kayak temen-temennya. Liburan temen-temen yang dimaksud adalah ke London, Hongkong, Singapore, atau minimal Lombok. Kalau nggak diturutin, anaknya nggak mau berangkat sekolah karena minder. Nggak bisa cerita kayak teman-temannya.

Tiga, mas suami semakin hilang selera sama yang namanya sekolah, sejak pilkada Jakarta kemarin. Perang politik berbasis agama dan suku, keluar dari mereka yang berpendidikan tinggi.

Kepada Para Ibu, yang Sedang Melawan Post Partum Depression..



Iya, bu. Saya tau, nggak ada satupun yang mengerti kenapa kamu menangis setiap hari tanpa henti. Keluarga, suami, sahabat, iya, bahkan orang-orang terdekat mengganggap kamu berlebihan. Nggak satupun dari mereka tau betapa dadamu terasa sesak, perutmu mual, kepalamu rasanya berputar-putar setiap hari setiap waktu.

Iya, bu. Saya tau, bayangan tentang kematian dan malaikat maut terus membayangimu. Membuatmu ketakutan dan semakin sesak, semakin mual. Keringatmu bercucuran karena rasa cemas yang nggak pernah kamu tau alasannya. Membuat kamu takut keluar rumah karena takut kecelakaan. Membuat kamu takut tidur karena khawatir besok nggak bangun lagi.

Iya, bu. Rasanya memang sakit luar biasa. Badan linu semua, kepala seperti ditonjok-tonjok saking pusingnya, mual tapi nggak bisa muntah, matamu berkunang-kunang, lemas, cuma mau nangis nangis dan nangis. Semuanya terjadi bersamaan dan kamu seringkali menyerah. Lalu kamu membekap kepalamu dengan bantal, memukulinya atau bahkan menjedotkannya ke tembok keras-keras supaya sakitnya hilang.

Jiwo Bertanya, Ibu (Pusing) Menjawab


Jiwo lagi masuk fase banyak tanya, dan saya (serta bapak dan eyang-eyangnya) masuk ke fase pusing jawab. Hahahahaha Entah anaknya yang kelewatan pinter, atau saya yang kelewatan dodol. Tapi kayaknya yang kedua sih, saya aja kebangetan dodol. Seabrek pertanyaan Jiwo gak bisa saya jawab dan ngambang aja gitu sampai hari ini.

Trus karena Jiwo tetep nanya tetep maksa, kadang saya jawab asal jeplak dan dia akhirnya jadi anak yang suka asal jeplak juga muahahahahaha Huss, jangan ngejudge saya ibu nggak bener dulu. Nih saya jembrengin beberapa pertanyaan Jiwo, monggo silakan dijawab. Nanti saya sambungin ke anaknya, barangkali ada jawaban yang memuaskan dia 😋

Kok Sering Viral Sih, Rahasianya Apa? Ini Lho...



Salah satu tulisan di blog ini, pageview-nya tembus 300ribu dalam 2 hari. Itu dicapai dengan tanpa optimasi SEO, tanpa di-boost di fanpage, dan tanpa sponsored post di instagram. Kami mencapai itu dengan satu trik: viral!

Trik? Iya. Jangan kira segala yang viral dari blog ini adalah ketidaksengajaan. Semuanya hasil 'produksi', salah satu strategi digital marketing yang kami lakukan demi membuat blog ini melebarkan sayapnya dan terbang lebih tinggi. Dan sekarang, kami mau bongkar rahasia dapur kami saat memproduksi konten-konten yang memiliki potensi viral.

Sini Nak, Sama Bapak...


Jiwo, ini bapak..

Belum lama ini, ibu kamu girang bukan main saat melihat tulisan berjudul Pergilah Bu, Bahagiakan Dirimu.. tersebar viral di jagad virtual. Menurutnya, apa yang terjadi adalah hal hebat. Melalui tulisan tersebut, bapak disebutnya sudah menginspirasi banyak kepala.

Jujur saja, Jiwo, ada sedikit bangga di dada bapak. Namun, rasa tersebut berubah kala melihat ratusan kata yang terpampang di kolom komentar sebuah status yang viral. Di sana, ada bermacam kalimat bernada sumbang. Ada yang menyebut kita sebagai sebuah fiksi, karena mana mungkin ada keluarga seperti itu. Ada pula yang menyebut ibu tak berguna lantaran tega meninggalkan kamu hanya diasuh bapak berhari-hari. Paling jahat, adalah pernyataan yang seperti merendahkan martabat bapak sebagai seorang ayah.

"Ibu macam apa yang tega ninggalin anak di rumah cuma sama bapaknya,", kata mereka.

Ibu Macam Apa Kamu!


Jadi kemarin tulisan mas suami yang judulnya 'Pergilah Bu, Bahagiakan Dirimu' viral besar. Seorang ibu mengkopas (dengan sumber) tulisan itu di statusnya dan sampai saya mengetik ini, yang share sudah tembus 23ribu orang.

Seperti biasa, namanya viral, pasti ada orang-orang yang nggak setuju dengan isi tulisan itu karena nggak sejalan dengan pemikiran dan pilihan hidupnya. Tapi jadi lucu karena banyak banget yang menyudutkan pilihan hidup kami, sampai tega merendahkan saya padahal kami sama-sama seorang ibu.

Ada yang bilang saya ibu aneh, kami keluarga nggak bener, ibu yang mau menang sendiri, ibu yang egois, ibu nggak inget keluarga, ibu macam apa sih tega banget jalan-jalan sendirian ninggalin anak, sampai ada yang bikin ngakak banget karena saya disuruh ke psikiater. Huahahahahaha Jadi ibu-ibu yang jalan-jalan tanpa anak dan suami itu, kejiwaannya terganggu apa gimana? :)))

Pergilah Bu, Bahagiakan Dirimu..

 

Jiwo, ini bapak.

Saat bapak menulis ini, ibu sedang berkemas, dia akan melakukan perjalanan ke luar kota, sendirian. Ini perjalanan ke tiga yang dia lakukan bulan ini. Bapak membiarkannya, meskipun tau, mengurus kamu tanpanya hitungan hari itu bukan hal yang mudah. Kenapa? Karena bagi bapak, membuatnya bahagia adalah membuat keluarga kita selalu bahagia.

Tiga tahun lalu, bapak pernah kecolongan, ibu kena serangan Post Partum Depression. Depresi yang membuat ibu kamu kerap menangis dan menjerit tanpa alasan. Depresi yang nyaris menghancurkan keutuhan keluarga kita, andai saja Gusti tidak langsung ambil bagian. Kenapa bisa kecolongan? karena dulu bapak membiarkan dia menjadi seorang ibu, tanpa mempersilakan dia menjadi dirinya sendiri.

Menikah Muda Tak Pernah Merampas Apapun dari Saya


Dulu, saya tuh anti banget sama yang namanya nikah muda. Pokoknya kalau ada temen yang bilang pengin nikah-padahal masih muda, saya pasti jadi setannya. Saya komporin kalau nikah muda itu nggak bakal enak. Jangan deh pokoknya jangan. Dan saya janji sama diri sendiri, nggak ada nikah muda dalam hidup saya.

Muda dalam kamus saya, adalah di bawah 25 tahun. Ini kamus saya ih bukan standar bkkbn apalagi undang-undang, bebas ya bebas dong. haha

Ya masa masih muda udah nikah sih? Kan sayang umurnya. Umur dua puluh tahunan itu, bagi saya, usia yang mantap jaya buat melakukan banyak hal. Pol-polan berkarya, giat-giatnya bekerja, mengejar apapun yang jadi mimpi-mimpi kita. Trus menukar itu semua itu dengan.. menikah? Hih.