Arkadia. Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Slider

Apa-apa yang Tidak Kami Posting ke Dunia Maya


Sudah setahun lebih saya nggak pajang wajah Jiwo di dunia maya, baik di blog, maupun sosial media. Awalnya susah sih, susah banget, rasanya jiwa narsis saya kayak dikerangkeng bulan ramadhan. Etapi sekarang, setelah setahun, udah biasa aja tuh. Udah sama sekali nggak ada beban, dan malah jadi kebiasaan. Alhamdulillah deh nggak ribet-ribet amat kek dulu.

Lebay emang biarin aja, saya sudah lama menutup telinga soal ini. hahahaha Dunia maya itu jahat banget, dan saya nggak rela kalau Jiwo jadi konsumsi publik sembarangan. Wajah dan beberapa hal tentang dia, saya jauhkan baik-baik dari dunia maya. Demi keamanan, demi kebaikan dia.

Nah, selain wajah Jiwo, ada beberapa hal lain yang juga tidak kami posting ke dunia maya.

Wisata Ramah Anak di Dataran Tinggi Dieng


Jalan-jalan ke dataran tinggi Dieng, bisa jadi dilema buat banyak buibu dan pakbapak. Ya gimana, tempat yang disebut-sebut negeri di atas awan ini emang menyuguhkan banyak wisata alam yang wow, tapi gimana caranya menikmati itu kalau bawa anak? Masa anak dibawa trekking? Hiking? Yang ada liburan jadi repot, dong!

Oh tenang, kemarin Jiwo baru main ke sana dan hepi! Ternyata ada tempat-tempat yang kids friendly, dengan tanpa mengurangi kesenengan orang gedenya. Kesenengan orang gedenya, bahasa cam apa ini? -_-

Kembalinya Mbah Nah


AKHIRNYA HAHAHAHAHAHAHAHA

Jadi Agustus tahun lalu, keluarga kami ditinggalin sama pengasuhnya Jiwo, yang sekaligus asisten rumah tangga di rumah kami. Saya manggilnya ibu, tapi Jiwo manggilnya Mbah Nah. Dia berhenti kerja karena kami pindah rumah, dan jaraknya lumayan jauh dari rumahnya.

Wogh saya nangis waktu itu, selain karena hidup tanpa PRT itu rasanya lelah dan ngehe betul, juga karena Mbah Nah udah kayak ibu sendiri buat saya dan mas suami.

Instastory, Mengabadikan Sekaligus Kehilangan


Beberapa hari ini banyak yang suka nanya "Kok Jiwo mukanya ditutupin terus sih?", karena tiap saya apdet instastory pasti mukanya Jiwo ditutup sticker atau tulisan atau apalah pokoknya biar enggak kelihatan.

Sebenernya kalau soal ini udah pernah saya bahas panjang lebar ya, silakan dibaca di tulisan ini:

Stop Upload Foto Wajah Anak ke Dunia Maya


Tapi gara-gara itu saya jadi sadar, kok saya jadi sering banget gini sih posting soal Jiwo di instastory. Dia ngoceh, apdet story. Dia nyanyi, apdet story.  Kami ngobrol di kasur, apdet story. Dia cium-cium saya, apdet story. Sampe pas kami lagi jalan-jalan ke curug, itu saya sempet-sempetnya apdet story soal Jiwo. Kayak yang.. pas Jiwo lagi lucu-lucunya lagi pinter-pinternya, semua orang harus tau. Harus liat.

Ini tuh nggak saya banget, saya dulu nggak gini.

Bunuh Diri


Itu tangan saya. Garis-garis di sana, adalah bekas percobaan bunuh diri. Yang satu, waktu saya kelas 3 SMA. Satu lagi, waktu awal kuliah. Satu lagi, waktu saya kena Post Partum Depression. Ada tiga? Sebenarnya banyak, tapi yang lain hanya luka beset ringan, tanpa bekas. Tiga-tiganya, pernah bikin darah saya muncrat dari nadi kiri. Tiga-tiganya, pernah bikin saya nyaris mati karena tangan saya sendiri.

Tulisan ini tadinya sepanjang 3ribu kata lebih, tapi kemudian beberapa bagian saya hapus karena.. setelah seminggu mengendap di draft, saya akhirnya berhasil memisahkan mana yang bisa dikonsumsi publik dan mana yang enggak. Jadi kalau tulisan ini terasa loncat-loncat dan mengambang di beberapa bagian, ya memang karena sudah saya pangkas lebih dari setengahnya. Semoga nggak mengurangi maksud kenapa saya menulis ini, ya.

Saya cerita yang pertama dulu. Percobaan bunuh diri waktu saya kelas 3 SMA, sayatan pakai cutter. Itu sayatan paling dalam dan paling berbekas. Saya bersyukur sih bekasnya nggak hilang, karena sekarang selalu jadi pengingat bahwa saya pernah ada di titik itu. Sekarang, setiap saya lihat tangan kiri saya, saya sangat sangat bersyukur Gusti mengijinkan saya untuk tetap hidup sampai hari ini. Saya selamat dari pembunuhan oleh diri saya sendiri.

Jiwo Enggak Usah Sekolah!



"Jiwo enggak usah sekolah!"

Satu kalimat yang terus diulang-ulang sama mas suami. Satu, belum lama ini ada anak temannya yang tiba-tiba nyeletuk, "Kata ibu guru, orang kafir itu kan jahat, nggak boleh dijadiin temen. Tapi ini kok tante Bunga (bukan nama sebenarnya) baik ya.". Mas suami bilang sama saya, itu anak kecil umurnya belum lima tahun sudah diajari untuk membenci mereka yang beda kepercayaan. Balita yang belum kenal dunia sudah diajari untuk menghakimi kepercayaan orang lain.

Dua, temennya yang lain curhat, pusing karena anaknya minta liburan. Nggak ada yang salah sama liburannya, tapi jadi mumeti karena anaknya minta liburan kayak temen-temennya. Liburan temen-temen yang dimaksud adalah ke London, Hongkong, Singapore, atau minimal Lombok. Kalau nggak diturutin, anaknya nggak mau berangkat sekolah karena minder. Nggak bisa cerita kayak teman-temannya.

Tiga, mas suami semakin hilang selera sama yang namanya sekolah, sejak pilkada Jakarta kemarin. Perang politik berbasis agama dan suku, keluar dari mereka yang berpendidikan tinggi.

Kepada Para Ibu, yang Sedang Melawan Post Partum Depression..



Iya, bu. Saya tau, nggak ada satupun yang mengerti kenapa kamu menangis setiap hari tanpa henti. Keluarga, suami, sahabat, iya, bahkan orang-orang terdekat mengganggap kamu berlebihan. Nggak satupun dari mereka tau betapa dadamu terasa sesak, perutmu mual, kepalamu rasanya berputar-putar setiap hari setiap waktu.

Iya, bu. Saya tau, bayangan tentang kematian dan malaikat maut terus membayangimu. Membuatmu ketakutan dan semakin sesak, semakin mual. Keringatmu bercucuran karena rasa cemas yang nggak pernah kamu tau alasannya. Membuat kamu takut keluar rumah karena takut kecelakaan. Membuat kamu takut tidur karena khawatir besok nggak bangun lagi.

Iya, bu. Rasanya memang sakit luar biasa. Badan linu semua, kepala seperti ditonjok-tonjok saking pusingnya, mual tapi nggak bisa muntah, matamu berkunang-kunang, lemas, cuma mau nangis nangis dan nangis. Semuanya terjadi bersamaan dan kamu seringkali menyerah. Lalu kamu membekap kepalamu dengan bantal, memukulinya atau bahkan menjedotkannya ke tembok keras-keras supaya sakitnya hilang.

Jiwo Bertanya, Ibu (Pusing) Menjawab


Jiwo lagi masuk fase banyak tanya, dan saya (serta bapak dan eyang-eyangnya) masuk ke fase pusing jawab. Hahahahaha Entah anaknya yang kelewatan pinter, atau saya yang kelewatan dodol. Tapi kayaknya yang kedua sih, saya aja kebangetan dodol. Seabrek pertanyaan Jiwo gak bisa saya jawab dan ngambang aja gitu sampai hari ini.

Trus karena Jiwo tetep nanya tetep maksa, kadang saya jawab asal jeplak dan dia akhirnya jadi anak yang suka asal jeplak juga muahahahahaha Huss, jangan ngejudge saya ibu nggak bener dulu. Nih saya jembrengin beberapa pertanyaan Jiwo, monggo silakan dijawab. Nanti saya sambungin ke anaknya, barangkali ada jawaban yang memuaskan dia 😋