Arkadia. Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Slider

Menghadapi Patah Hati


Saya duduk di lantai kering toilet kantor. Mengunci pintu lalu menangis sesungukan dan menghabiskan satu gulung tisu sendirian. Saya memukul-mukul tembok toilet, menjedot-jedotkan kepala, dan berkali-kali muntah tanpa keluar apa-apa. Saya meninju tutup kloset duduk yang sedang tertutup, dengan seluruh tenaga yang saya punya.

Sudah tiga hari saya cuma makan satu kali sehari, setiap makanan masuk rasanya mual dan pengin keluar lagi. Dada saya seperti ditonjok-tonjok dari dalam. Tenggorokan saya perih dan napas saya sesak. Mata saya sembab sampai bengkak. 

Nikah Sama Siapa?


Ada temen saya tiba-tiba dateng ke Purwokerto, dia temen deket waktu kami di kosan dulu. Dia tinggal di Jakarta. Tau-tau nongol cengengesan depan rumah, alasannya; mau ambil keputusan. Enggak usah heran, banyak orang yang begitu. Mereka yang memilih Purwokerto sebagai tempat pulang. Jadi apapun masalah hidupnya, solusinya ada di Purwokerto. Padahal kalo udah sampe Purwoketo biasanya mah nggak selesai, nambah masalah lah iya. Cuma sugesti aja, semua terasa lebih baik kalo udah 'pulang' ke Purwokerto.

Udah beberapa hari ini dia numpang tinggal di rumah saya. Gak ada tujuan mau ngapain dan kemana di Purwokerto, macam orang baru ditinggal kawen. Beneran cuma numpang makan, tidur, makan lagi, tidur lagi, gitu aja terus sampe pevita pearce ngakuin saya adeknya.

Malam-malam dia curhat, dia ke Purwokerto itu mau ambil keputusan; mau nikah sama siapa. Sekarang dia punya 3 calon. Satu calon dari mamanya, satu dari papanya, dan satu itu orang yang dia kenal dekat udah lama. Tiga-tiganya baik, tiga-tiganya mapan, tiga-tiganya siap diangkut ke pelaminan terdekat. Dia umurnya udah mau kepala 3, menurut netizen kan ya, dia udah harusnya menikah. Komentar saya cuma satu waktu itu, SOK CANTIK BANGET LU ONCOM LAKINYA AMPE TIGA!

Galaksi Pungky dan 2018: PAMIT



Hai. Ini ibu Jiwo, dan yang kalian baca ini mungkin akan jadi sebuah peluk perpisahan bagi kita.

Kalian mungkin masih inget saya punya blog personal, pungkyprayitno.com. Gak usah dibuka, percuma, dia udah nggak ada. Saya masih inget pertama kali saya bikin dia, tahun 2010. Saya kasih nama Galaksi Pungky, nama yang saya pakai sampai akhir waktunya.

Bersamamu, dari Nol


Saya dan Pungky, lahir dan besar di tengah keluarga yang berada. Tidak kaya raya, tapi sejak kecil, apa yang kami mau selalu ada, selalu cukup. Saat menikah, kami memutuskan untuk sedikit demi sedikit lepas dari bantuan orang tua. Membangun rumah tangga dengan tangan kami sendiri. Sebelumnya kami adalah dua anak yang serba ada, kemudian setelah menikah menjadi sepasang suami istri yang memulai semuanya, dari nol.

Saya kira gampang. Saya sudah hidup selama 26 tahun waktu itu, mengarungi macam-macam kehidupan, dari yang tinggi sampai yang nadir. Jadi kalau cuma membangun rumah tangga, pastilah pekerjaan sepele. Kenyataannya jauh sekali. Menjalani pernikahan itu, the biggest leap in a mans life. Semuanya serba asing, serba kejutan, serba membuat saya kewalahan.

Sebelum meminta Pungky menjadi istri, saya pernah janji pada diri sendiri, saya tidak akan jadi laki-laki yang mengajak pasangannya hidup susah. Saya tidak pernah meminta Pungky mau diajak susah, tidak memintanya untuk bersiap mengarungi badai. Tapi dalam pernikahan, kejutan itu nyatanya terjadi setiap saat. Saya dan Pungky pernah diterjang bukan sekedar badai, namun kiamat kecil yang sukses membalikkan perahu kami di tengah laut lepas, dan menghanyutkan kayu-kayunya jauh sekali. Kami berenang dalam ketidaksiapan, nyaris saja tenggelam.

Menjadi Working Mom! Ugh..


Jadi kan, saya sudah 3 bulan ini banting stir jadi working mama. Iya, sist, saya kerja kantoran dan jam kerjanya beneran ketat dari pagi sampai sore. Malah prakteknya, saya sering baru keluar kantor sangat malam. Dari ibu rumah tangga yang 24 jam full di rumah, sekarang saya adalah perempuan yang 9 jam waktunya habis di kantor. Nah lho gak tuh.

Gimana?

Ya gak gimana-gimana hahahaha. Saya ceritain dari Jiwo ya. Jiwo biasa aja, dia nerima dan enjoy sama perubahan kebiasaan ini. Dia kami titipkan di tempat yang baik, banyak temennya, lebih banyak kegiatan daripada waktu sama saya doang di rumah seharian.

Saya nggak pernah minta maaf ninggalin dia buat kerja. Nggak mau. Karena kerja itu nggak salah, mengalihkan pengasuhan dia ke orang lain buat kerja juga bukan kesalahan, jadi kenapa harus minta maaf.

Saya juga nggak ijin yang gimana-gimana, saya nggak mau dia menganggap kalau ibu kerja itu sebuah hal yang butuh pemakluman ekstra dan harus dimaafkan. Jadi sebelum berangkat hari pertama, saya cuma bilang berkali-kali kalau saya akan kerja seperti bapaknya. Dia akan menghabiskan harinya di tempat lain, nggak di rumah. Dia akan lebih banyak sama orang lain, nggak sama saya lagi.

Wah Ini Dia Para Pemenang Giveaway Blog Jiwo!



Satu sore di akhir September, sebuah surat datang dari Sumba. Untuk Jiwo, cah bagus.. Isinya cerita tentang senyum-senyum kecil di sana, tentang bahagia yang sederhana, dan inspirasi tentang berbagi dan memberi.

Saya senyum asem, ya ampun, kapan terakhir saya berbagi? Lupa. Nyisihin 2,5% dari penghasilan itu? Duh iya bulan ini belum. Kegaplok bolak balik rasanya, best moment ternyata bukan cuma tentang diri kita. Tapi juga tentang orang lain, tentang senyum orang asing yang bahkan nggak pernah kita kenal sebelumnya. Best moment kita, bisa jadi adalah tentang kebahagiaan dunia di sekitar kita.

Blog Jiwo Bagi-bagi Hape: Giveaway My 2018 Best Moment




Saya dan Pungky memang sejak dulu sama-sama suka menulis, tapi, nggak pernah ada dalam bayangan saya bakal jadi penulis yang punya karya. Saya kecemplung menjadi penulis karena pekerjaan saya sebagai jurnalis, sedangkan Pungky, dia sih tukang curhat di buku diary sejak sekolah.

Saya sebenarnya sudah lama ingin punya buku sendiri, tapi tidak pernah percaya diri. Pungky juga, dia pernah cerita kalau mimpi sekali punya buku sendiri. Dipajang di toko buku, tertulis namanya di halaman depan. Tapi seperti saya, mimpinya tidak juga kesampaian. Padahal sudah beberapa penerbit yang menawarkan dia membukukan tulisannya, tapi nggak ada yang dia iyakan. Katanya, belum saatnya. Hatinya bilang, waktunya belum pas di hati.

Terimakasih, Sujiwo Arkadievich



Jiwo, ini ibu..

Dulu, mana aku tau, kalau kelahiranmu akan membawaku pada hidup yang sungguh baru. Benar-benar baru. Dulu, yang aku tau, aku menulis banyak-banyak untuk dibaca kamu. Aku menulis sering-sering untuk mengabadikan setiap langkah kecilmu. Supaya kamu tau, aku begitu mencintai kita.

Hari ini, cerita-cerita itu bukan lagi hanya milik kita. Gusti dan semesta mengantar kita pada takdir yang lucu, tapi seru. Kehadiranmu, bocah Peloponessus, membawa aku dan suamiku menjadi penulis buku. Dengan kamu sebagai tokoh utamanya.