Arkadia. Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Slider

Pergilah Bu, Bahagiakan Dirimu..

 

Jiwo, ini bapak.

Saat bapak menulis ini, ibu sedang berkemas, dia akan melakukan perjalanan ke luar kota, sendirian. Ini perjalanan ke tiga yang dia lakukan bulan ini. Bapak membiarkannya, meskipun tau, mengurus kamu tanpanya hitungan hari itu bukan hal yang mudah. Kenapa? Karena bagi bapak, membuatnya bahagia adalah membuat keluarga kita selalu bahagia.

Tiga tahun lalu, bapak pernah kecolongan, ibu kena serangan Post Partum Depression. Depresi yang membuat ibu kamu kerap menangis dan menjerit tanpa alasan. Depresi yang nyaris menghancurkan keutuhan keluarga kita, andai saja Gusti tidak langsung ambil bagian. Kenapa bisa kecolongan? karena dulu bapak membiarkan dia menjadi seorang ibu, tanpa mempersilakan dia menjadi dirinya sendiri.

Urusan Rumah Tangga Kami Bukan Konsumsi Publik



Ada temen fesbuk saya nge-share artikel "Mengajak Istri Jalan-Jalan, Pahalanya Sama dengan Itikaf Selama Sebulan". Intinya si artikel bilang kalau suami ada baiknya sering ajak istri dan anak jalan-jalan karena itu membahagiakan keluarga, dan ya pastilah berpahala. 

Tapi lucunya dia nge-share dengan caption, "Sampai lupa rasanya jalan-jalan.. Mungkin dia tidak ingin berpahala". Lengkap dengan emotikon senyum manis -> :). Hahahahaha dengan alasan sangat pesonal, saya unfriend. Lagian gak kenal-kenal amat, bukan teman di dunia nyata juga. Ya udahlah maaf, bhay.

Ada lagi teman dekat saya nge-share artikel di fesbuk, lagi-lagi tentang suami. Saya lupa tepatnya, pokoknya ada kalimat-kalimat, wahai suami.. lihatlah istrimu tak secantik gadis-gadis itu karena ia lelah mengurus anak-anakmu blablablabla panjanglah pokoknya. Intinya, woy suami jangan selingkuh sama gadis, karena istri lo kucel kumel itu ya karena ngurus rumah tangga elo!

Atas artikel ini, teman saya kasih caption begini, "Senyumin aja.. Biar sadar sendiri". Karena saya sayang sama dia sebagai temen, langsung saya japri. Akhirnya dia curhat panjang lebar lalu dia hapus share-nya itu.

Drama Persapihan (3): Jiwo Sayang Ibu..


Oke, sinetron persapihan kita lanjutkan kembali. Si baby nguwil bernama Jiwo ini punya modus baru buat malak nenen.

Satu hari, dengan wajah memelas, dia datang ke sana dan langsung peluk. Saya terenyuh, peluk balik.

Kutukan Remote Tv Rusak


Saya nggak ngerti deh ini kena kutukan apa, tapi di rumah kami, ada misteri yang sampai sekarang belum juga terpecahkan: Remote Tv SELALU RUSAK. Kerusakan paling sering itu si remote nggak mau nyambung sama tv, jadi mencet nomer berapa, si channel kabur ke nomer berapa. Meleset jauh. Kayak ngacir semaunya gitu. Kzl.

Bukan sekali dua kali, tapi sering banget. Semua remote tv kami bentuknya mengenaskan, pasti coel pecah dimana-mana dan sebagian besar tertutup isolasi. Entah karena dilempar Jiwo, atau karena kami pukul-pukul demi bisa bener lagi. Nggak tau juga ini adat darimana, remote rusak bukannya dibenerin, malah dipukul-pukul tiap ngaco. Ya makin ngaco lah.

Nak, Ayo Kita Lihat Dunia..


Jiwo, ini ibu.

Dulu, waktu ibu kecil, eyang kakung sering ajak ibu ke luar kota naik kereta api. Paling sering ke Bandung, naik kereta Parahiyangan. Ibu senang sekali. Karena dengan jalan-jalan, ibu jadi bisa tau kalau Bandung itu dingin, ibu paham kalau manusia itu dilahirkan berbeda-beda dan nggak apa-apa. Di Bandung, orang-orang bicara dengan bahasa sunda, nadanya mendayu-dayu. Tapi di sana juga ada orang Medan, bicaranya keras seperti menantang. Dan mereka hidup bersama. Nggak apa-apa. Ibu tau karena eyang ajak ibu ke Bandung.

Ibu pengin sekali Jiwo seperti ibu dulu. Makanya ibu sering ajak Jiwo jalan-jalan. Karena ibu percaya, perjalanan adalah sekolah terbaik untuk kamu. Dengan perjalanan, kamu bisa belajar bahwa hidup itu punya banyak warna, banyak macam manusia, banyak rasa, dan banyak bunyi. Dengan perjalanan, kamu bisa mengerti kalau dunia itu luas dan indah. Ada guru dimana-mana, ada ujian naik kelas yang harus kamu hadapi kapan saja, ada jutaan pelajaraan yang bisa kamu serap kapanpun kamu mau.

Wisata Edukatif untuk Anak-anak di Sekitar Bandung



Papa saya tinggal di Bandung, dan kami otomatis jadi sering ke sana. Namanya eyang yekan, saban weekend pasti ngerayu-rayu cucunya biar jenguk. Iming-imingnya wisata. Saya suka heran sih, lah wisata apaan di Bandung? Buat anak-anak pula. Wisata belanja? Itumah emaknya yang doyan.

Namanya weekend kan pasti penginnya ngajak anak ke tempat wisata yang menarik dan edukatif, ya. Hoiya harus edukatif, saya kan ibu muda masa kini yang suka sok-sokan learning by traveling. HAHA gayamu. Dan demi membahagiakan papa, akhirnya saya mengumpulkan banyak-banyak info tentang wisata edukatif untuk anak-anak di sekitar Bandung. Jadi beneran bisa nengokin sekalian ajak Jiwo wisata.

Gak khawatir sih ngajak anak ke Bandung, apalagi urusan menginap, kan Hotel Murah mah bisa pesan via Traveloka. Hotel Amarroossa Bandung, misalnya. Banyak tuh tempat wisata di dekat Hotel Amaroossa Bandung.

Jangan Pintar, Jangan Soleh, Jangan Berguna Bagi Nusa Bangsa


Jiwo, ini bapak.
Bapak masih ingat betul sensasi luar biasa saat melihat bayi seberat 4,5 kilo lahir ke dunia. Bahagia, bangga, bercampur ngeri yang juga nggak biasa. Waktu itu bapak masuk babak hidup yang jauh berbeda. Menjadi ayah, menjadi orang yang harus mampu memberimu contoh-contoh dalam menjalani kehidupan.

Hari ini, genap empat tahun kamu hidup di dunia. Sama seperti ayah-ayah di keluarga lain, bapak juga punya ucapan, doa, atau sebut saja harapan. Ada tiga, semoga kamu mengamini semuanya.

Atheis Paling Sederhana

Beberapa waktu lalu, keluarga kecil kami ‘ambruk’ sampai keuangan benar-benar habis. Saking habis nya, Jiwo makan nasi cuma sama kecap. Pada puncaknya, sambil menangis, saya marah sama Tuhan. Kenapa Dia yang Maha Kaya tega membiarkan anak saya makan cuma sama kecap?

**
Ambruk ini bukan tanpa alasan. Tepat saat pindah rumah, kami kena masalah yang betul-betul di luar perkiraan. Uang harus kami keluarkan sampai angka jutaan rupiah dan kami gak bisa apa-apa selain berusaha ikhlas. Ikhlas melihat rupiah terakhir kami melayang begitu saja tanpa tau kapan dan bagaimana kami bisa mendapat gantinya.