Arkadia. Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Slider

#JepretanJiwo: Sini Bu, Singgah Dulu..



Singgah ini nama cafe, ya tau sendiri lah ya Jiwo mah balita tongkrongan, senengnya ke cafe bukan ke playground. bhahahahaha Ini tempat saya dan Jiwo keluar dari keseharian kami sebagai ibu dan anak rumahan. Tiap bosen di rumah, kami ngacir ke sini. Kadang bertiga sama bapak, kadang berdua aja, kadang rame-rame sama temen-temen saya. Nak gawl Purwokerto banget yekaaaan.

Soal anak rumahan itu, iyain aja plis.

Menikah Muda Tak Pernah Merampas Apapun dari Saya


Dulu, saya tuh anti banget sama yang namanya nikah muda. Pokoknya kalau ada temen yang bilang pengin nikah-padahal masih muda, saya pasti jadi setannya. Saya komporin kalau nikah muda itu nggak bakal enak. Jangan deh pokoknya jangan. Dan saya janji sama diri sendiri, nggak ada nikah muda dalam hidup saya.

Muda dalam kamus saya, adalah di bawah 25 tahun. Ini kamus saya ih bukan standar bkkbn apalagi undang-undang, bebas ya bebas dong. haha

Ya masa masih muda udah nikah sih? Kan sayang umurnya. Umur dua puluh tahunan itu, bagi saya, usia yang mantap jaya buat melakukan banyak hal. Pol-polan berkarya, giat-giatnya bekerja, mengejar apapun yang jadi mimpi-mimpi kita. Trus menukar itu semua itu dengan.. menikah? Hih.

Karena Hati Selalu Punya Jalannya Sendiri



Jadi semalam saya dan suami membahas soal mantan-mantan kami. Ini gara-gara postingan #GesiWindiTalk yang bikin saya terpancing, trus bilang ke suami "Yang, aku pengin nulis soal mantan kayak Gesi. Tentang hubungan baik kita sama mantan mantan aku dan mantan mantan kamu. Tapi i want to bring it to the next level: kita nulis berdua!". HAHAHA I LOVE YOU GESI! (kalimat terakhir ini pesenan)

Dimana ada coba suami istri nulis bareng soal mantan? Itukan spesies yang bisa memporakporandakan rumah tangga dalam sekali kedip ya. Kok ya malah dibahas bareng, saya memang rada gesrek ya :))

Mas suami nggak langsung mengiyakan, tapi sepulang kerja, kami diskusi soal ini. Di dapur sambil masak indomie goreng. Awalnya saya cuma ajak dia ngobrol soal hubungan baik kami dengan para mantan, tapi ternyata saya dan suami menjalani obrolan yang jauh lebih sensitif. Kami bicara dari hati ke hati, air mata ke air mata, soal masa lalu kami dan perasaan-perasaan yang belum-dan mungkin-tidak pernah selesai.

Blog Sujiwo dan 2016



Bagi kami, tahun 2016 jadi tahun yang hebat untuk blog Sujiwo ini. Banyak banget pencapaian, berkah, rejeki, sekaligus nyinyiran orang. Katanya, dinyinyirin itukan tanda femes ya. Makanya kami syukuri sekalian, karena alhamdulillah blog anak kami sudah mulai masuk fase femes. HAHAHAHA ayo dong nyinyirin lagi dong :P

Tahun ini bapak Jiwo mulai ikutan nulis di sini. Dia nulis 3 postingan dan tiga-tiganya viral besar. Nggak paham banget deh kenapa bisa ajaib gitu. Satu tulisan pageview-nya 200ribu, yang satu 80ribu, yang terakhir baru kemaren 150ribu. Kan kesel ya. Itu satu tulisan dia, pageview-nya sebanyak tulisan saya selama enam bulan. Saya nulis sampe senep, berbulan-bulan, dengan visual yang diusahakan kece badai, dibalap sama dia cuma dengan satu postingan curhat. 

Pergilah Bu, Bahagiakan Dirimu..

 

Jiwo, ini bapak.

Saat bapak menulis ini, ibu sedang berkemas, dia akan melakukan perjalanan ke luar kota, sendirian. Ini perjalanan ke tiga yang dia lakukan bulan ini. Bapak membiarkannya, meskipun tau, mengurus kamu tanpanya hitungan hari itu bukan hal yang mudah. Kenapa? Karena bagi bapak, membuatnya bahagia adalah membuat keluarga kita selalu bahagia.

Tiga tahun lalu, bapak pernah kecolongan, ibu kena serangan Post Partum Depression. Depresi yang membuat ibu kamu kerap menangis dan menjerit tanpa alasan. Depresi yang nyaris menghancurkan keutuhan keluarga kita, andai saja Gusti tidak langsung ambil bagian. Kenapa bisa kecolongan? karena dulu bapak membiarkan dia menjadi seorang ibu, tanpa mempersilakan dia menjadi dirinya sendiri.

Urusan Rumah Tangga Kami Bukan Konsumsi Publik



Ada temen fesbuk saya nge-share artikel "Mengajak Istri Jalan-Jalan, Pahalanya Sama dengan Itikaf Selama Sebulan". Intinya si artikel bilang kalau suami ada baiknya sering ajak istri dan anak jalan-jalan karena itu membahagiakan keluarga, dan ya pastilah berpahala. 

Tapi lucunya dia nge-share dengan caption, "Sampai lupa rasanya jalan-jalan.. Mungkin dia tidak ingin berpahala". Lengkap dengan emotikon senyum manis -> :). Hahahahaha dengan alasan sangat pesonal, saya unfriend. Lagian gak kenal-kenal amat, bukan teman di dunia nyata juga. Ya udahlah maaf, bhay.

Ada lagi teman dekat saya nge-share artikel di fesbuk, lagi-lagi tentang suami. Saya lupa tepatnya, pokoknya ada kalimat-kalimat, wahai suami.. lihatlah istrimu tak secantik gadis-gadis itu karena ia lelah mengurus anak-anakmu blablablabla panjanglah pokoknya. Intinya, woy suami jangan selingkuh sama gadis, karena istri lo kucel kumel itu ya karena ngurus rumah tangga elo!

Atas artikel ini, teman saya kasih caption begini, "Senyumin aja.. Biar sadar sendiri". Karena saya sayang sama dia sebagai temen, langsung saya japri. Akhirnya dia curhat panjang lebar lalu dia hapus share-nya itu.

Drama Persapihan (3): Jiwo Sayang Ibu..


Oke, sinetron persapihan kita lanjutkan kembali. Si baby nguwil bernama Jiwo ini punya modus baru buat malak nenen.

Satu hari, dengan wajah memelas, dia datang ke sana dan langsung peluk. Saya terenyuh, peluk balik.

Kutukan Remote Tv Rusak


Saya nggak ngerti deh ini kena kutukan apa, tapi di rumah kami, ada misteri yang sampai sekarang belum juga terpecahkan: Remote Tv SELALU RUSAK. Kerusakan paling sering itu si remote nggak mau nyambung sama tv, jadi mencet nomer berapa, si channel kabur ke nomer berapa. Meleset jauh. Kayak ngacir semaunya gitu. Kzl.

Bukan sekali dua kali, tapi sering banget. Semua remote tv kami bentuknya mengenaskan, pasti coel pecah dimana-mana dan sebagian besar tertutup isolasi. Entah karena dilempar Jiwo, atau karena kami pukul-pukul demi bisa bener lagi. Nggak tau juga ini adat darimana, remote rusak bukannya dibenerin, malah dipukul-pukul tiap ngaco. Ya makin ngaco lah.