Arkadia. Diberdayakan oleh Blogger.

Menjadi Working Mom! Ugh..


Jadi kan, saya sudah 3 bulan ini banting stir jadi working mama. Iya, sist, saya kerja kantoran dan jam kerjanya beneran ketat dari pagi sampai sore. Malah prakteknya, saya sering baru keluar kantor sangat malam. Dari ibu rumah tangga yang 24 jam full di rumah, sekarang saya adalah perempuan yang 9 jam waktunya habis di kantor. Nah lho gak tuh.

Gimana?

Ya gak gimana-gimana hahahaha. Saya ceritain dari Jiwo ya. Jiwo biasa aja, dia nerima dan enjoy sama perubahan kebiasaan ini. Dia kami titipkan di tempat yang baik, banyak temennya, lebih banyak kegiatan daripada waktu sama saya doang di rumah seharian.

Saya nggak pernah minta maaf ninggalin dia buat kerja. Nggak mau. Karena kerja itu nggak salah, mengalihkan pengasuhan dia ke orang lain buat kerja juga bukan kesalahan, jadi kenapa harus minta maaf.

Saya juga nggak ijin yang gimana-gimana, saya nggak mau dia menganggap kalau ibu kerja itu sebuah hal yang butuh pemakluman ekstra dan harus dimaafkan. Jadi sebelum berangkat hari pertama, saya cuma bilang berkali-kali kalau saya akan kerja seperti bapaknya. Dia akan menghabiskan harinya di tempat lain, nggak di rumah. Dia akan lebih banyak sama orang lain, nggak sama saya lagi.

Saya bilang terus setiap hari, setiap mau tidur sambil pukpuk. Saya ceritain saya kerja dimana, kantor saya seperti apa, tempat barunya dia bakal semenyenangkan apa, hari-hari kami selanjutnya akan seseru apa. Saya bilang kita akan kumpul lagi malam-malam, kita main puzzle, kita main ke alun-alun, kita makan di cafe, kita belajar iqra, kita nonton film bareng, kita masak crepes berdua, kita main tepung warna, kita bakal tetap senang-senang kayak biasa. Hanya aja sekarang jadi malam.

Tiap weekend juga kami main. Kami camping, kami treking, kami nyemplung curug, kami makan di luar, kami makan sate kelinci di Baturraden, kami api unggunan, kami ke mol main temzon sampe capek, kami tetap ibu dan anak yang asyique. Nggak ada yang berubah.

Saya membuat Jiwo menganggap kalau ibu kerja adalah hal yang biasa aja, nggak mau didramatisir dengan minta maaf karena meninggalkan dia seharian. Enggak mau bahas-bahas kangen karena nanti anaknya jadi ikut drama. Saya gak mau dia merasa ditinggalkan dan jadi seakan haus akan kasih sayang saya. Toh saya memang gak kemana-mana, kan. 

Dan dia sekarang jadi lebih produktif bermain dan bersosialisasi. Lebih banyak aktifitas, lebih senang, lebih punya sesuatu yang diutak-utik. Daripada kalo sama saya terus, golar goler doang di rumah. 

Sekarang, semuanya lebih menyenangkan.

Mas suami. Ah ini mah apalagi. Dia dukung banget saya buat kerja. Dia seneng liat saya lebih berdaya, nggak di rumah mulu ngeresein dia saban waktu hahahahaha. Dia seneng liat saya bangun tiap pagi, dandan cantik, pakai blazer, lebih semangat hidupnya, nggak leyah leyeh doang di rumah kayak cucian kotor.

Dia ikut bangun tiap pagi, nganterin saya ke kantor, sampai tempat mesin absen. Cium kening lalu kami memulai hari dengan bahagia. Kadang kalau siang jemput buat makan bareng, kadang dia sama Jiwo video call saya di kantor. Sekarang pernikahan kami jadi ada kangennya, dan itu seru! Gemes-gemes gimanaaa gitu.

Saya sendiri gimana?

Wigh jangan ditanya, super-super bahagia! Ya bohong lah ya kalau saya bilang nggak keteteran. Pasti kalau keteteran mah. Apalagi awal-awal kerja, aduh itu tiap pagi isinya panik doang hahahaha. Bingung harus ngapain duluan karena waktunya jadi super ketat dan mesin absen kantor udah nungguin. Tapi lama-lama jadi biasa dan ya udah. Saya pelan-pelan memahami ritme baru ini, harus bangun jam berapa, Jiwo jam berapa, ngapain dulu, apa dulu yang diberesin, apa yang harus disiapin buat Jiwo, dan semacamnya. Semua jadi rutinitas dan dijalani dengan hepi, setiap pagi.

Dan saya orang yang bodoamat sama kalimat-kalimat sumbang, "Tega banget kerja, nitipin anak sama orang". "Nggak sayang anak ya? Malah milih kerja". Bodo amat kaaak.. Bodo amat hahahaha ngomong sama sendal jepit aja gidah, jangan sama saya. 

**


Kayak yang bilang tadi, semuanya jadi lebih lebih menyenangkan. Jadi keteteran, jadi ada kangennya, jadi panik, jadi lebih cantik, jadi ada lebih banyak kegiatan buat Jiwo, jadi lebih banyak teman, jadi lebih banyak pengalaman, jadi semangat, jadi berwarna, jadi lebih bahagia.

Alhamdulillah.. Untuk ke semilyar kali, maturunuwun Gusti Ingkang Widhi.




3 komentar

  1. Yang penting semuanya bahagiaaaa~ Semangat yaaa Mbak dengan pekerjaan barunya :)

    BalasHapus
  2. Aaaakkk... Kuharus menirumu deh pungkik... Bahagia dan menikmati kesibukan sebagai ibu pekerja.xixixi

    BalasHapus
  3. Yang penting bahagia. Apapun itu pilihannya.

    BalasHapus