Arkadia. Diberdayakan oleh Blogger.

Bersamamu, dari Nol


Saya dan Pungky, lahir dan besar di tengah keluarga yang berada. Tidak kaya raya, tapi sejak kecil, apa yang kami mau selalu ada, selalu cukup. Saat menikah, kami memutuskan untuk sedikit demi sedikit lepas dari bantuan orang tua. Membangun rumah tangga dengan tangan kami sendiri. Sebelumnya kami adalah dua anak yang serba ada, kemudian setelah menikah menjadi sepasang suami istri yang memulai semuanya, dari nol.

Saya kira gampang. Saya sudah hidup selama 26 tahun waktu itu, mengarungi macam-macam kehidupan, dari yang tinggi sampai yang nadir. Jadi kalau cuma membangun rumah tangga, pastilah pekerjaan sepele. Kenyataannya jauh sekali. Menjalani pernikahan itu, the biggest leap in a mans life. Semuanya serba asing, serba kejutan, serba membuat saya kewalahan.

Sebelum meminta Pungky menjadi istri, saya pernah janji pada diri sendiri, saya tidak akan jadi laki-laki yang mengajak pasangannya hidup susah. Saya tidak pernah meminta Pungky mau diajak susah, tidak memintanya untuk bersiap mengarungi badai. Tapi dalam pernikahan, kejutan itu nyatanya terjadi setiap saat. Saya dan Pungky pernah diterjang bukan sekedar badai, namun kiamat kecil yang sukses membalikkan perahu kami di tengah laut lepas, dan menghanyutkan kayu-kayunya jauh sekali. Kami berenang dalam ketidaksiapan, nyaris saja tenggelam.

Berubah Setelah Menikah, Jadi Gimana Biar Apa?


Jadi pernah ya, saya sama mas suami lagi makan gitu di restoran, berdua, trus ada ibu-ibu yang ngomongin kami kenceng-kenceng, katanya, "Mahasiswa sekarang pacaran udah bisa di restoran ya". Huahahahahaha satu, ngapain sih bu kenceng amat ngomongnya, bilang langsung aja itu mah nggak usah sok bisik-bisik. Dua, siapa bu yang mahasiswa bu? Tadinya pengen ngelabrak jadi ngakak geer kan sini kan.

Pernah juga saya sama mas suami ke swalayan berdua, trus saya ngegandeng tangan mas suami manjaaaah sambil milih-milih sayur. Ada keluarga gitu di deket kami, bawa anak kecil, itu dong bapaknya negur kami dengan tatapan galak. Mungkin dia takut anaknya belajar pacaran hahahahaha

Paling sering di stasiun, kalo saya mau plesir dan mas suami nganterin sampai peron, kan kalau pamit pasti cium kening ya. Itu iya banget diliatin orang-orang, padahal kalo ke stasiunnya sama Jiwo, pada biasa aja liatinnya. Tapi giliran cuma berdua dan kami pasang adegan cium kening, yang lirik sinis sepenjuru stasiun. Wey udah halal weeeey.

Apa-apa yang Tidak Kami Posting ke Dunia Maya


Sudah setahun lebih saya nggak pajang wajah Jiwo di dunia maya, baik di blog, maupun sosial media. Awalnya susah sih, susah banget, rasanya jiwa narsis saya kayak dikerangkeng bulan ramadhan. Etapi sekarang, setelah setahun, udah biasa aja tuh. Udah sama sekali nggak ada beban, dan malah jadi kebiasaan. Alhamdulillah deh nggak ribet-ribet amat kek dulu.

Lebay emang biarin aja, saya sudah lama menutup telinga soal ini. hahahaha Dunia maya itu jahat banget, dan saya nggak rela kalau Jiwo jadi konsumsi publik sembarangan. Wajah dan beberapa hal tentang dia, saya jauhkan baik-baik dari dunia maya. Demi keamanan, demi kebaikan dia.

Nah, selain wajah Jiwo, ada beberapa hal lain yang juga tidak kami posting ke dunia maya.