Arkadia. Diberdayakan oleh Blogger.

Bunuh Diri


Itu tangan saya. Garis-garis di sana, adalah bekas percobaan bunuh diri. Yang satu, waktu saya kelas 3 SMA. Satu lagi, waktu awal kuliah. Satu lagi, waktu saya kena Post Partum Depression. Ada tiga? Sebenarnya banyak, tapi yang lain hanya luka beset ringan, tanpa bekas. Tiga-tiganya, pernah bikin darah saya muncrat dari nadi kiri. Tiga-tiganya, pernah bikin saya nyaris mati karena tangan saya sendiri.

Tulisan ini tadinya sepanjang 3ribu kata lebih, tapi kemudian beberapa bagian saya hapus karena.. setelah seminggu mengendap di draft, saya akhirnya berhasil memisahkan mana yang bisa dikonsumsi publik dan mana yang enggak. Jadi kalau tulisan ini terasa loncat-loncat dan mengambang di beberapa bagian, ya memang karena sudah saya pangkas lebih dari setengahnya. Semoga nggak mengurangi maksud kenapa saya menulis ini, ya.

Saya cerita yang pertama dulu. Percobaan bunuh diri waktu saya kelas 3 SMA, sayatan pakai cutter. Itu sayatan paling dalam dan paling berbekas. Saya bersyukur sih bekasnya nggak hilang, karena sekarang selalu jadi pengingat bahwa saya pernah ada di titik itu. Sekarang, setiap saya lihat tangan kiri saya, saya sangat sangat bersyukur Gusti mengijinkan saya untuk tetap hidup sampai hari ini. Saya selamat dari pembunuhan oleh diri saya sendiri.


Sayatan cutter itu adalah hasil kekecewaan sama hidup. Hidup nggak adil sama saya waktu itu, saya pernah menjalani hari-hari seperti anak sebatang kara padahal keluarga saya masih hidup semua. Ada beberapa masalah yang bikin mereka harus 'pergi' dari saya. Dulu, saya adalah gadis yang tumbuh dalam kesepian.

Selama SMA, saya pasti nangis setiap ambil rapot, karena rapot saya seringnya diambilin sama ibunya temen. Setiap tahun ganti, tergantung ibu temen yang mana yang mau dimintain tolong. Deg-degan ngelongok lewat jendela kelas saat orang tua duduk tabah nunggu giliran dipanggil wali kelas, itu saya nggak tau rasanya. 

Ada satu guru yang sampai hapal sama saya, bu Ros namanya. Suatu hari, tanpa diminta, dia datang ke kelas saya dan menghadap wali kelas. Mau ambilin rapot saya, katanya. Dia mengajukan diri jadi wali, karena nggak mau liat lagi ada siswi susungukan di teras mushola sekolah setiap hari kenaikan kelas. 

Saya pernah ikut kejuaraan bela diri tingkat provinsi, mewakili kota. Anak lain diantar keluarganya sampai bis atlet, dipeluk bangga sebelum tanding. Saya mengepak sendiri barang-barang ke dalam ransel, dan naik angkot sendirian lalu jalan kaki di terminal sambil keringetan lepek karena ranselnya berat. Saya naik bis atlet sambil nahan air mata, lihat orang-orang berwajah bangga mengantar anaknya ikut kejuaraan bergengsi. Lewat jendela bis, saya lihat ke kerumunan orang-orang di luar, mereka melambaikan tangan, beberapa menutup mulutnya dengan sapu tangan karena haru, dan nggak ada keluarga saya di sana. 

Selama sekolah, saya nggak pernah menyembunyikan nilai ulangan yang jeblok kayak teman-teman, karena siapa yang peduli? Itu kertas ulangan ngejembreng di meja belajar juga nggak ada yang ngelirik kok.

Temen-temen ketakutan kalau bolos sekolah, saya enggak. Saya bisa bolos kapanpun, sesering apapun tanpa perlu bohong. Gimana mau bohong wong nggak ada yang pernah nanya saya sekolah atau enggak. Nggak pernah ada yang mau tau.

Saya dilabrak kakak kelas sampai nangis-nangis, temen saya curhat udah nggak perawan, saya menjatuhkan hape teman dan harus ganti, saya dipanggil kepala sekolah karena menghilangkan uang kas ekskul, saya dikasih liat video bokep di hape sama kakak kelas, saya diajarin temen buat merobek rok sekolah biar pahanya kelihatan, lalu dimarahi guru habis-habisan. 

Saya terpapar hal-hal semacam itu waktu sekolah, dan saya nggak punya siapa-siapa untuk berbagi rasa. Semuanya saya rasain sendiri, setiap masalah saya selesaiin sendiri. 

Mendekati ujian nasional, saya sering sesak napas tiba-tiba. Sesak napas yang sampai nangis jerit-jerit karena rasanya seperti dicekik keras. Berkali-kali dibawa ke dokter, berkali-kali juga dokter bilang bahwa nggak ada yang salah sama kesehatan saya. Rekam jantung, rontgen paru-paru, sampai ke pengobatan alternatif, semua hasilnya sama: kesehatan saya baik-baik aja.

Tapi semakin dekat UN, sesak napas saya semakin sering dan semakin jadi. Dada rasanya semakin nyeri. Pernah sampai saya pingsan di sekolah lalu jerit-jerit di UKS, kata teman saya, mata saya sampai putih semua seperti orang sekarat. Saking sakitnya, saking nyerinya.

Ujian nasional itu hal yang diperjuangkan mati-matian oleh saya remaja, karena semua orang menuntut supaya saya lulus dengan nilai bagus. Saya ditekan oleh tuntutan-tuntutan, tapi nggak ada yang peduli sama kondisi saya. Saya berjuang bersama kesepian.

Lalu titik itu akhirnya datang, titik dimana saya merasa nggak punya siapa-siapa. Nggak ada yang peduli, semua orang membuang saya. Saya merasa nggak diharapkan, saya merasa kehadiran saya di dunia nggak ada gunanya. Kekecewaan saya sampai ke puncaknya. Saya ambil cutter di laci meja belajar, sambil sesungukan, sambil sesak nafas, saya menyayat urat nadi di tangan kiri...

Saya dilarikan ke rumah sakit. Sejak hari itu, semuanya berubah. Keluarga saya akhirnya 'kembali', tapi saya terlanjur marah. Saya terlanjur benci untuk tinggal di rumah, saya benci jadi bagian dari keluarga ini. Kenapa baru sekarang mereka peduli? Kenapa setelah saya memutuskan mati, mereka baru sadar kalau saya ada? 

Selepas SMA, saya minta baik-baik untuk boleh kuliah di luar kota. 

**

Garis yang kedua, itu hasil silet di tahun pertama kuliah. Saya akhirnya pergi, kuliah di tempat yang jaraknya 7 jam kereta api dari rumah. Di kamar kos tempat saya tinggal, saya punya tiga boneka kecil yang masing-masing saya tulis; Rumah, Pundak, Pelukan hangat. Tiga doa yang saya harap saya temukan di kota baru ini.

Lalu hidup saya kedatangan seseorang. Saya masih ingat betul gimana tangannya gemetar waktu nemuin bekas luka sayat di tangan kiri saya, di dalam kereta waktu itu. Satu-satunya orang yang minta saya janji buat jangan pernah ngulangin lagi percobaan bunuh diri itu. Matanya merah, dia bener-bener marah. Untuk pertama kalinya, saya merasa hidup saya berharga buat orang lain.

Tapi dia pergi. Kami berpisah, dan sejak itu saya jadi aneh. Saya jadi suka menyakiti diri sendiri. Saya suka bikin tangan saya berdarah-darah, saya sering sengaja beli cutter ke swalayan cuma untuk menulis di tangan sendiri. Ya, menulis di kulit dengan cutter

Sejak dia pergi, saya kembali merasa nggak diharapkan, nggak ada yang peduli. Satu-satunya orang yang bikin saya merasa berharga, ternyata memilih pergi ninggalin saya. Menyakiti diri sendiri jadi hal baru yang sangat menyenangkan waktu itu. Setiap goresan cutter mulai keluar darah, saya senyum-senyum. Rasanya semua sesak di dada, semua sakit hati, semua marah, semua kecewa, keluar bersama darah dari sayatan itu.

Semakin hari sayatannya semakin banyak, tubuh saya penuh sama luka. Enggak ada yang menghentikan, sahabat-sahabat saya nggak ada yang berani larang. Bahkan saya pernah menulis buku diari dengan... darah. Iya, tulisannya dibuat dari darah yang keluar dari tubuh saya sendiri. Di tembok kamar kos saya, pernah saya gambar gadis kecil sedang gantung diri. Di sebuah buku, saya pernah menggambar pasangan yang tidur berlumuran darah, saya tulis di atasnya, “Sayang, temani aku bunuh diri..”.

Kalian boleh bilang ini sinetron banget tapi itu betul-betul pernah terjadi. Bunuh diri pernah jadi bagian dalam hidup saya. Bunuh diri pernah sedekat itu dengan hidup saya.

Sampai satu hari saya merasa cutter-cutter itu nggak tajam, sedangkan dada saya tetap nyeri, jadi saya beli silet. Belum sampai menulis, baru satu goresan, darahnya sudah muncrat...

Waktu itu nggak ada siapa-siapa di kamar kos, saya sendirian. Harusnya saya terusin sayatannya, saya akan kehilangan banyak darah dan mati dalam waktu cepat. Tapi enggak, saya berhenti. Mungkin itulah cara Gusti menyelamatkan saya, tiba-tiba saya sadar, saya nggak boleh kalah sama hidup! Saya nggak boleh kalah sama sakit hati, saya nggak boleh kalah sama diri saya sendiri. Cemen sekali dan saya harusnya nggak secemen itu. Hidup mati saya nggak seharusnya dikendalikan oleh perasaan dihargai atau semacamnya, arti hidup saya nggak seremeh itu.

Saya menghentikan sendiri pembunuhan malam itu.

**

Hal yang menyelamatkan saya dari semuanya adalah pernikahan. Doa saya tentang "Rumah, Pundak dan Pelukan hangat", terkabul dalam sekali waktu. Mas suami itu satu-satunya orang yang pernah memeluk saya sambil bilang, “Kamu udah di rumah..”. Dan kelahiran Jiwo, adalah titik balik terbesar yang pernah terjadi dalam hidup saya. Di dunia ini, ternyata ada mereka, orang-orang yang mengharapkan keberadaan saya. Orang-orang yang bikin saya merasa sangat berarti. 

Garis terakhir adalah sayatan saat saya Post Partum Depression. Soal yang satu ini, saya ceritakan di lain tulisan aja ya. Yang pasti, ibu melahirkan yang punya riwayat depresi memang beresiko besar terserang Post Partum Depression. Jadi sebetulnya bukan hal menganggetkan kalau saya kena. Tapi waktu itu saya nggak tau apa-apa, bunuh diri akhirnya jadi bagian di perjalanan saya menjadi ibu.

Tapi itu semua sudah masa lalu. Alhamdulillah. Hari ini saya adalah ibu yang bahagia dari Sujiwo Arkadievich. Hari ini saya adalah perempuan yang semangatnya meletup-letup atas banyak hal. Hari ini saya adalah mamah muda yang cengengesan dan banyak tingkah. Kadang bikin pengen nabok ya nggak sih? Muahahahaha

Hari ini saya masih di kota yang sama seperti 9 tahun lalu, masih berjarak ratusan kilometer dari keluarga. Tapi saya sudah dan sedang rindu mereka, setiap waktu luang dan ada rejeki, saya selalu sempatkan untuk pulang. Hari ini Jiwo dan mas suami lebih dari sepuluh kali cium pipi saya, hobinya mereka itu sih emang, sampe bau jigong ini muka. Hari ini saya adalah anggota keluarga di dua rumah, dan di dua-duanya saya bahagia.

Tiga ding sama rumah mertua :D

Hari ini saya menulis ini sambil menangis, semua memori kelam dulu seperti dipanggil ulang. Tapi saya bahagia menulisnya karena ternyata semuanya sudah berlalu. Hari ini titik-titik nadir itu sudah bisa jadi cerita, sudah bukan lagi waktu yang harus dilalui dengan air mata, sesak napas, dan sayatan nadi. Hari ini bekasnya masih ada, garis-garis di tangan kiri saya, dan saya nggak berhenti bersyukur sama Gusti karena saya diijinkan melewati semuanya.

**

Jantung saya berdenyut lebih kencang waktu baca berita tentang kasus-kasus bunuh diri belakangan ini. Saya pernah ada di posisi mereka. Bedanya, saya selamat, mereka tidak.

Oh, kalian nggak perlu repot-repot menjatuhkan kami dengan kalimat semacam, “Bodoh banget pake bunuh diri segala”, “Dasar kurang iman!”, “Gitu tuh akibat salah didikan, salah pergaulan”. Nggak perlu. Kami sudah lama dikalahkan oleh diri kami sendiri. Dengan atau tanpa suara sumbang kalian, kami sudah jatuh. Jadi terimakasih atas waktunya untuk buang-buang energi demi hal yang kami nggak perlu sama sekali.

Daya setiap orang menghadapi masalah itu beda-beda, jadi plis, "Saya pernah lebih parah dari itu tapi nggak bunuh diri tuh", itu juga eng... terimakasih yaa tapi lebih terimakasih lagi kalau kalimat itu disimpen aja sendiri. 

:)

Apakah proses bunuh diri itu sakit? Buat saya, jawabannya enggak. Sama sekali enggak. Malah semakin lukanya melebar, semakin darahnya keluar, rasanya semakin menyenangkan. Sakit mungkin untuk mereka yang lagi dalam keadaan normal. Tapi dalam kondisi lepas kendali, kondisi dimana bunuh diri sudah jadi ‘ambisi’ yang harus dituntaskan, rasanya seratus delapan puluh derajat berbeda.

Badan akan terasa dingin, napas menderu, dan beberapa bagian tubuh mati rasa. Dada sesak seperti ditekan, lalu mata berkunang-kunang dan rasanya seperti melayang. Tapi memang nggak sakit sama sekali, malah bisa bikin senyum-senyum saat prosesnya. Nah, kalau sekarang saya disuruh ngulang, ya ndak mau, sakit lah!

Apakah saat bunuh diri nggak ingat sama Tuhan? INGAT, sangat ingat. Waktu saya dulu, bahkan pertemuan sama Sang Pencipta itu yang bikin semangat buat cepet-cepet mati. Saya mau pulang aja, nggak mau lagi di dunia karena menyiksa. Yang saya nggak ingat waktu itu adalah Tuhan membenci bunuh diri itu sendiri.

**

Untuk kamu yang sekarang sedang berada di sana, di titik nadir itu.. Saya tau kamu sedang merasa paling mengerti yang terbaik untuk hidup kamu, nggak ada seorangpun yang peduli kondisi kamu, dan itulah kenapa sekarang tali itu ada di kamarmu. Itulah kenapa botol obat nyamuk terasa menggiurkan dan itulah kenapa pisau di dapur terlihat menggoda.

Saya cuma mau ngasih tau, kalau saya pernah ada di sana. Di posisi kamu. Saya tau betul rasanya sudah kehabisan air mata, dan hidup tetap berlaku nggak adil. Saya tau betul rasanya nggak punya pertolongan, nggak punya solusi, bunuh diri adalah jalan terakhir dan itu yang terbaik. Kalian akan pergi dan masalah selesai. Begitu?

Percayalah, menghentikan sayatan di tangan kiri saya 8 tahun lalu, adalah keputusan yang sangat saya syukuri hari ini. Melewati semuanya dan hidup bahagia sekarang, adalah berkah yang.. saya sampai nggak tau gimana caranya berterimakasih sama Tuhan atas ini. Saya masih hidup dan semua berjalan jauh jauh jauh lebih baik. Hidup saya sekarang semilyar kali lebih menyenangkan.

Saya bisa, kamu juga pasti bisa. Pasti bisa.

Suatu hari nanti kamu akan melihat bekas sayatan di tangan kirimu sambil tersenyum, semuanya sudah berlalu. Semuanya sudah lewat, dan kamu bertahan. Ternyata kamu punya banyak orang-orang baik yang menyayangimu. Ternyata kamu bisa menang dan membuktikan tentang "Tuhan tidak memberi masalah di luar kemampuan hambaNya".

Suatu hari nanti kamu akan berterimakasih pada diri sendiri karena sudah sekuat itu, setabah itu. Suatu hari yang akan datang padamu, jika hari ini kamu menyingkirkan pisau, tali, atau racun serangga yang sudah kamu siapkan itu. Suatu hari sangat indah yang akan datang padamu, jika hari ini kamu melawan :)

Kalau kamu sering melakukan hal-hal di luar kendali, kalau tubuh kamu rasanya tidak lagi sepenuhnya milik kamu, kalau tekanan-tekanan itu rasanya sudah bikin kamu nggak sanggup lagi, saya punya satu saran: jangan malu minta bantuan orang lain. Atau kalau memang sudah harus dapat bantuan profesional, ya penuhi itu. Saya pernah ke ahli kejiwaan dan nggak apa-apa. Saya mending dikira gila daripada jadi gila beneran hehe

Terakhir, satu hal klise yang mungkin sudah sejuta kali kamu dengar; sertakan Gusti dalam setiap detikmu. Serahkan semuanya, semuanya, semuanya.

**

Saya nggak akan ceramah bagaimana menghadapi remaja yang depresi, atau gimana jadi orang tua yang baik supaya anaknya nggak bunuh diri, atau gimana mengatasi orang yang punya kecenderungan senang menyakiti diri sendiri. Pengetahuan saya belum sejauh itu, tapi semoga ada yang bisa diambil dari tulisan panjang (banget) saya ini. Panjang ya astaga gak nyadar ini udah 2ribu kata lebih hahahahaha

Kalian yang sedang membaca ini di sela-sela kesibukan, jangan lupa bilang sama orang-orang terdekat, kalau sesibuk apapun, kalian tetap menyayangi mereka. Kirim whatsapp berisi jejeran emoji cium, atau kirim voice note "jangan lupa makan ya", atau nanti pulang mampir warung martabak dulu buat dikeroyok di depan tivi, atau ganggu tidur mereka dengan "kok tidur sih? aku bawa mie ayam kesukaan kamu lho..", atau apapun deh, cara apapun yang bikin mereka tau kalau mereka berharga.

Anak-anakmu, orang tuamu, istrimu, suamimu, sahabatmu, teman satu kost, adik yang nakal tapi kamu sayang, kakak yang jahil tapi kalau dia nggak ada rasanya hampa,  siapapun itu.. kasih tau mereka kalau bagimu, mereka sangat berarti :)

Semoga langit masing-masing kita selalu bercahaya dan berbahagia.


Salam sayang,
@pungkyprayitno
(harus ditulis namanya biar enggak disalahgunakan lagi :P)

26 komentar

  1. Peluuuuk pungky... titik nadir seseorang selalu menjadi persimpangan penting untuk kita memilih. Aku yakin kamu tidak pernah sendiri Pung, tapi yang penting aku bersyukur kamu menemukan cinta-Nya and look at you now. You are a blessed mom now.. never forget that :). kecuuuuuup sayang dari Manhattan yang selalu berisik ;)..

    BalasHapus
  2. Pungkyy aku baca dr awal smpai akhir ga ada yg terlewat. Aku jadi teringat seorang kawan saat patah hati mengatakan, seandainya bunuh diri itu ngga dosa.. Ah untungnya dia sekarang udah bahagia bersama keluarga kecilnya, yaa semogaa

    BalasHapus
  3. Nggak bisa komen *Peluuuuk Pungky

    BalasHapus
  4. nulis komen sambil lap air mata, di halaman sekolah seusai rapat dengan wali kelas. Hiks.. tiba-tiba aku ingin menanyakan kabar keluarga terdekatku. Makasih udah berbagi Pungky. Speechless aku :( *peluuuk

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Hehe waktu kita masih tetanggaan yaa.. Tiba2 rumah gue rame sama anak gadis bunuh diri. Alhamdulillah udah lewat :)

      Hapus
    2. Iya lewat. Sekarang yg ada si selebgram yg susah banget ditemuinnya.

      Hapus
  6. aku baca postingan ini sambil berkaca-kaca, baru ketemu sekali sama kak pungky di acara jne bandung dan sama sekali gak nyangka pernah mengalami itu semua, mukanya selalu senyum dan bikin sekitarnya ceria :)
    aku jadi inget pernah ada di titik terbawah (versiku) tapi ternyata gak ada apa2nya kalau dibandingkan cerita ini dan Alhamdulillah sudah dilewati juga dan sekarang jauh lebih baik dan bahagia :)
    makasi kak sudah berbagi cerita, salam bahagia selaluuu untuk dirimu dan keluarga :)

    BalasHapus
  7. Mbaaaa...peluuuk������salut ama mb pungky, ya Aĺlah mewek aku bacanya...hikss

    BalasHapus
  8. InsyaAllah sekarang udah nggak pernah kepikiran itu lagi, ya, Pung?

    Btw, kapan ke Jakarta? Nanti aku beri pelukan hangat sebagai sambutan buat yang datang dari Pekalongan. :)))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bidadari dari Purwokerto sist.. Pekalongan mah bundadari yang satunya noh πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    2. Btw, banyak yang gini dari kemaren. Alhamdulillah ini udah cerita 8 atau 7 taun yang lalu. Sekarang aku adalah mahmud gemas yang kepikirannya cuma gincu, beras dan gincu lagi. Demikian :)))

      Hapus
  9. La Haula wa quwwata Illa Billah, dibilang mamah Dedeh mode on biarin deh. Jaga Pung, jaga itu penjagaan Allah sama kamu. Jangan sampai lepas.
    Peluk sayang dari Jogja yg ruwet bruwet huahahahah

    BalasHapus
  10. Campur aduk banget baca ini. Sedih, ngilu, tapi bahagia di akhirnya. Alhamdulillah ya Pung.
    Btw mana ngira Pungky sekarang yang sering dibilang Agnezmo nya blogger :p, pernah mengalami masa2 seperti itu. Semoga bahagia selalu ya Pungky. Eling terus sama Gusti. Amin.

    BalasHapus
  11. Baca ini jadi inget sama diri sendiri.
    Seneng baca tulisanmu, semoga banyak yang bisa kebantu setelahnya ya.

    BalasHapus
  12. Pungkyyyyy gemaaassssssss!!! Dulu tau kamu PPD aja udah bikin aku mlongo dan makin tqkut menikah karena takut punya anak. Sekarang nambqh lagi kisah hidupmu yg bikin aku mlongo sekaligus kagum, ternyata kamu sekuat itu. Makasih ya, sudah menginspirasi. Dan sekarang aku pun mensyukuri kesempatan ywng masih dibuka oleh tuhan

    BalasHapus
  13. Kak Pungkyyyy kamu hebaaatt!! Nggak nyangka aku pernah ketemu sama perempuan sehebat ini! Semoga panjang umur ya kak! *triple-big-hug

    BalasHapus
  14. Dulu waktu umur 6thn aku pernah ngerasain pgn bunuh diri (mungkin korban sinetron) gara2 kalo buat kesalahan ortu marah. Eh pas nangis dikamar jedotin kepala ke tembok, qo sakit bgt ya(cara bunuh diri versi anak ingusan) udah deh, ga prnh mau coba2 lg yg namanya menyiksa diri πŸ˜‚

    BalasHapus
  15. jujur aku baca cuma seperempat tulisan ini. nyeri...lalu kemudian membayangkan Pungky yang sekarang yg selalu nampak gembira dimana-mana. semoga kita semua terhindar dari hal2 begitu, seberat apapun ujian. amiin

    BalasHapus
  16. Kak pungky... beberapa cerita mirip dengan hidup saya. Kadang ngerasa juga gak punya rumah. sendiri. sepi.

    Tapi mungkin itu hanya pikiranku. Saya berusaha berdamai dan melihat dari kacamata yang berbeda. Belajar merelakan sesuatu yang mungkin tidak bisa berubah. Sedih sih tapi syukurnya tak pernah terlintas untuk membunuh diri sendiri.

    Terima kasih yah sudah berbagi banyak hal di blog. Aku dulu waktu duduk di samping bus damri pengen denger lebih banyak tapi maluuuuu eaak.

    Peyukkkk~~

    BalasHapus
  17. Halo mba pungky yang tak pernah aku sapa walau berpapasan (maafkeun ... ) mau bilang apa ya ... Banyak siy tapi ... Alhamdulillah sekarang mba sudah berbahagia ... Itu aja deh hehehe ...

    BalasHapus
  18. dari retweetan twitter "nyasar" di sini. Setelah selesai baca, aku langsung inget anak perempuan ku. Tadi pagi habis aku marahin karena dia gak tau ada PR dan ada ulangan harian. Apakah nanti dia masih anggap aku "home" nya ketika dia beranjak dewasa ? Apakah dia muak punya Ibu yang marah2 terus ? *nangis sesenggukan di meja Resepsionis kantor

    BalasHapus
  19. Kubaca ini sambil megangin lengan kiri why :(( I'm glad you meet those people, Kak :D

    BalasHapus
  20. Kak pungky... Makasih lho bikin aku nangis geleweran di kereta πŸ˜‚
    Keren Kak bisa berbagi kayak gini 😘😘😘

    BalasHapus
  21. Kita sama-sama punya bekas sayatan di tangan kiri mbak hehehe. Tahu betul rasanya senyum-senyum pas lihat darahnya keluar. Dan sangat bersyukur kalau itu semua sudah jadi bagian masa lalu, kalo disuruh lagi ya ogah, sakit :"< haha. Doakan aku bisa punya keluarga yg bahagia seperti mbak Pungky ya ^^

    BalasHapus
  22. High five and big hug buat kamu pungky..
    Sebagai survivor depresi, saya paham betul bgmn rasanya ketika berada di titik "Me against the world and i'm alone". *trus nangis di pojokan kamar sambil ngemut selai kacang* hehehehe..
    Jadi pengen ketemu dan berbagi cerita deh..

    BalasHapus