Arkadia. Diberdayakan oleh Blogger.

Nak, Ayo Kita Lihat Dunia..


Jiwo, ini ibu.

Dulu, waktu ibu kecil, eyang kakung sering ajak ibu ke luar kota naik kereta api. Paling sering ke Bandung, naik kereta Parahiyangan. Ibu senang sekali. Karena dengan jalan-jalan, ibu jadi bisa tau kalau Bandung itu dingin, ibu paham kalau manusia itu dilahirkan berbeda-beda dan nggak apa-apa. Di Bandung, orang-orang bicara dengan bahasa sunda, nadanya mendayu-dayu. Tapi di sana juga ada orang Medan, bicaranya keras seperti menantang. Dan mereka hidup bersama. Nggak apa-apa. Ibu tau karena eyang ajak ibu ke Bandung.

Ibu pengin sekali Jiwo seperti ibu dulu. Makanya ibu sering ajak Jiwo jalan-jalan. Karena ibu percaya, perjalanan adalah sekolah terbaik untuk kamu. Dengan perjalanan, kamu bisa belajar bahwa hidup itu punya banyak warna, banyak macam manusia, banyak rasa, dan banyak bunyi. Dengan perjalanan, kamu bisa mengerti kalau dunia itu luas dan indah. Ada guru dimana-mana, ada ujian naik kelas yang harus kamu hadapi kapan saja, ada jutaan pelajaraan yang bisa kamu serap kapanpun kamu mau.

Tapi, kita nggak melakukan perjalanan seperti dulu ibu sama eyang kakung. Karena uang ibu nggak sebanyak uang eyang. Ibu hanya bisa janji, kamu akan dapat perjalanan-perjalanan yang akan kamu ingat seumur hidup. Perjalanan sama ibu. Sama bapak.

Ibu dan bapak nggak akan ajak kamu naik kereta eksekutif. Nyaman memang, tapi harganya mahal sekali. Kita akan sering naik kereta ekonomi. Selain jauh lebih murah, kereta ekonomi akan kasih kamu cerita yang lebih banyak. Di kereta rakyat ini, kita duduk berhadapan dengan orang tak dikenal. Selama perjalanan, tukeran cerita pasti ada. Sangat mungkin kita dan mereka bertukar makanan juga, bertukar pengalaman, tawa, bahkan inspirasi. Jiwo jadi dapat saudara baru.

Dan yang seperti ini, ndak ada di kereta eksekutif. Di sana duduknya sendiri-sendiri, menghadap depan semua. Suasanya gerbongnya juga senyap, jadi kalau ngobrol seru suka dimarahin orang. Jiwo ingat nggak, waktu ke Yogya kemarin, Jiwo dikasih jeruk sama mbah mbah di kereta Logawa. Jiwo senyum senang karena Jiwo suka jeruk, padahal Jiwo nggak kenal sama mbah itu. Nah, seperti itu, nak. Betapa kereta ekonomi sangat membumi.


Kita juga akan sering naik bis antar-kota. Bis seperti ini akan sering-sering berhenti, dan setiap berhenti, orang yang naik akan ganti-ganti. Jiwo akan tambah banyak punya saudara baru. Untuk yang dekat-dekat, kita naik angkot. Seperti bis, kamu akan tau kalau duduk berdekatan lalu berbicara dengan orang baru itu seru dan menyenangkan. Kita menyerap banyak cerita dari banyak orang.

Ibu nggak akan ajak kamu makan di restoran mewah. Makanannya memang enak, tukang masaknya harus sekolah tinggi dulu kalau mau masak di sana. Tapi lagi lagi, harganya pasti mahal sekali. Jadi kita makan saja di warung emperan. Tenda-tenda ayam goreng Lamongan kesukaan kamu, atau warteg yang ada sayur sopnya. Andalan bapak, makan di warung nasi padang. Lima puluh ribu kenyang bertiga. Enaknya bisa bikin tidur pulas.

Bukannya ibu pelit, tapi dengan makan begini, kamu akan dapat banyak pelajaran seru. Kamu bisa tau ada bapak-bapak pengayuh becak yang bekerja panas dan hujan demi anak istrinya. Makan siang mereka setiap hari mungkin hanya nasi dan orek tempe di warteg, tapi mereka bahagia dan beryukur atas itu. Kamu mungkin akan ketemu dengan sopir truk yang sudah berminggu-minggu ndak ketemu anaknya. Makan di warung nasi padang sambil menelpon keluarga. Kamu akan belajar bersyukur, bapak dan ibu selalu ada di rumah setiap hari.

Ibu nggak akan ajak kamu masuk ke tempat bermain modern yang mewah. Bagus sekali memang, tapi itu semua buatan manusia dan dioperasikan mesin. Kita main ke pantai saja. Kita duduk bertiga sama bapak di tepi laut dan di bawah langit yang biru. Kita main kejar-kejaran di pasir yang bersih. Air laut yang pelan-pelan menyapu kakimu, itu dapat mengalirkan energi positif, lho. Kamu akan berterimakasih pada Gusti, telah menciptakan bumi yang keren. Indah dilihat dan dirasakan.

Kita masuk hutan, nyemplung ke sungai di kaki gunung. Kamu akan mengerti kalau bahagia memang bisa sederhana. Kolam alam itu asiknya luar biasa, nak. Kita bisa berenang sampai bosan. Dengan begini, kamu juga bisa tau kalau kita dan alam itu bedampingan. Hidup bersama dan saling membutuhkan. Kamu belajar jadi manusia, ndak boleh jahat sama alam apalagi merusak semena-mena. Kamu akan tau betapa indahnya nyanyi burung, suara jangkirk, atau lucunya tupai yang loncat dari pohon ke pohon. Belajar membumi, sayangku. Hiduplah bersama semesta, dengan penuh hormat dan rasa kasih.

Soal penginapan, ibu pastikan kamu akan mendapat kasur yang nyaman. Ndak, ndak mahal kok. Nanti kita menginap di Zen Rooms, harganya terjangkau tapi menyuguhkan penginapan yang menyenangkan. Kamarnya pasti ada ac-nya, nak. Kamu pasti suka, rasanya adem dan semriwing. Zen Rooms juga memastikan setiap kamar dapat akses wi-fi yang lancar. Jadi sebelum tidur, kita bisa buka website dongeng kesayangan kamu, ibu bacakan seperti biasa sampai kamu terlelap.

Ibu senang sekali dengan konsep Zen Rooms ini. Bukan cuma terjangkau, tapi mereka juga membantu penginapan-penginapan kecil yang jarang terdengar namanya, untuk lebih produktif. Seperti prinsip ibu, urusan tidur tak perlu mahal. Namun kadang ibu meragukan penginapan-penginapan yang tidak terkenal, karena takut pelayanannya mengecawakan dan asal-asalan. Zen Rooms memastikan mereka menyediakan pelayanan prima. Kamar yang bersih, akses internet yang lancar dan gratis, kasur yang nyaman, serta kamar mandi dalam.

Buat ibu, ini keren. Karena dengan begini, Zen Rooms menghidupkan bisnis-bisnis akomodasi kelas melati yang selama ini sunyi. Sebagai pelanggan, ibu jadi jauh dari rasa khawatir. Karena ibu tau, Zen Rooms pasti memberikan kamar yang baik dan layak inap.


**

Jiwo, percayalah.. Tanpa perlu terlalu banyak biaya, ibu dan bapak akan membawa kamu melihat dunia. Jangan khawatir, kamu tetap boleh naik moda transportasi kelas eksekutif, kamu boleh makan di restoran mewah, kamu boleh menginap di hotel berbintang banyak. Tapi nanti, saat kamu sudah bisa membiayai perjalananmu sendiri. Saat kamu sudah mampu bekerja keras untuk mendapatkan liburan terbaikmu. Saat kamu sudah lulus dari kelas-kelas perjalanan sederhana bersama kami. Kelas-kelas di bis kota, di warung emperan, di gang-gang, di tengah hutan.

Nanti, kalau saatnya tiba, mungkin kamu akan duduk di kamar hotel yang sangat megah. Kamar yang bagus dan ac nya dingin sekali. Di pinggir jendela, kamu memandangi jalanan dan lampu-lampu kota. Lalu kamu tersenyum dan mengingat, kita pernah ada di sana. Di jalanan yang kamu lihat itu, kamu kecil menggandeng ibu dan bapak, jalan kaki bertiga sambil nyangklong ransel. Saat mungkin jakun kamu telah menonjol dan kumis kamu mulai lebat, kamu akan menyaksikan lagi perjalanan kita. Di bawah lampu kota, bintang, dan tangkupan cerita-cerita tentang kita bertiga. Ibu, bapak, dan kamu.


35 komentar

  1. Juaraaa mah ini jlan2nya...
    Aku belum pernah pake ZenRooms

    BalasHapus
  2. Kok gw mewek ya, inget perjalanan-perjalanan irit bareng anak-anak. Huhuuuu... tanggung jawab pungky udah bikin sentimen pagi2

    BalasHapus
  3. Aduh kok jadi terhanyuuut eh terharu ya *usap2 mata.
    Jiwwwoo, suatu saat jika kamu sudah bisa membiayai perjalananmu sendiri, jangan lupa ajak Ayah dan Ibumu ya Nak.

    BalasHapus
  4. Mas Jiwo, ajak Jasmine ke Pantai juga, dong. Nanti nginepnya di Zen Rooms. Hokyaa hokyaa! :D

    BalasHapus
  5. Jiwo klo jalan tangannya suka nadah di belakang gitu yaaa... jadi inget ulasan soal tangan model begini di primbon *komen pa'aaaann inih

    BalasHapus
  6. Ini tulisan yang keluar dari hati :)

    BalasHapus
  7. Asiiik Jiwo punya ibu yang ngerti banget, gimana Jiwo bisa membumi, gimana Jiwo bisa dapat pelajaran

    BalasHapus
  8. serunya jalan2 bareng anak ditambah bisa hemat saat travelingnya

    www.travellingaddict.com

    BalasHapus
  9. Aku mewek baca ini.. menyentuh!

    BalasHapus
  10. mak Pungky.. akoh terharu... bukan, bukan sama kontennya tapi kok yo isoooo nulis koyok ngene... jagoan emen sampeyan ki... wkwkwk... saluuut!!

    BalasHapus
  11. mak Pungky.. akoh terharu... bukan, bukan sama kontennya tapi kok yo isoooo nulis koyok ngene... jagoan emen sampeyan ki... wkwkwk... saluuut!!

    BalasHapus
  12. Akkkkkk Jiwooooo, emakmu satu ini emang kece bingiittt! Salam ya, Wo! Tunggu tante di Purwokerto. Jiwo mau kan ngajak tante makan di warung Lamongan kesukaanmu? :)

    BalasHapus
  13. Aku selalu terharu biru membaca tulisanmu mbak

    BalasHapus
  14. Ga tulisanmu mbaaaaakkk, bedaaaaa gimana gitu yaaa... :)

    BalasHapus
  15. Jd inget ponakanku yg kdg tak ajak jalan2 hemat. Blm punya anak sih.... bikin mewekkk

    BalasHapus
  16. ahhh mak jiwo, aku jadi jleb soalnya di Jakarta yg serba megah ini dimana teman2 seangkatanku sudah pada punya 2 mobil di garasinya, aku masih naik angkot ato bis tiap jalan berdua anakku, mada

    pertimbanganku, naik angkot/bis klo macet berjam2, bisa pindah ganti ojek onlen ato mampir turun ke warung bakso plusss anakku bisa ngobrol dgn siapapun di angkot/bis :)

    BalasHapus
  17. paragrap terakhir sukses membuat saya merinding.. flasback selama 17 belas tahun terakhir, aku yang bersusah payah berangkat pulang sekolah punya sejuta cerita di jalan.. kadang jalan kaki, kadang bisa ikut blusukan ke kebun nanas dan pisang *pas nebeng pekerja kebun*
    dan masih banyak cerita lainnya... kadang aja pas inget inget itu bisa senyum senyum sendiri..
    seakan akan bilang gini "Oh ternyata untuk sukses seperti yang di bilang Mak itu butuh perjuangan segitunya ya"
    dalam hati ya terus minta doa sih, biar jalan kedepannya masih mulus.. dan kalaupun ada lubang, tetap yakin masih ada jalan lainnya..

    btw, Jiwo jangan kecewain Bapak dan Ibu ya.. jangan pernah malu akan moment moment itu..

    BalasHapus
  18. Nanti kalau menang ke Bali, jangan lupa nyebrang ke Lombok sekalian ya Jiwo sayang #eh

    BalasHapus
  19. kok gue jadi berkaca kaca yak bacanya

    BalasHapus
  20. Aku jadi inget naik kereta ekonomi yg desek2an kalo ke Jakarta, dipangku sm bapa. Dlu masih bnyak penjual asongan, banyak jajanan. Seneng bgt waktu itu diajakin naik kereta.

    BalasHapus
  21. Soft selling dg konsep story telling yg luar biasa juara :) Good luck, mba.:)

    BalasHapus
  22. aku terharu... pandai benar kau merangkai kalimatnya Mak
    aku mempunyai pikiran yang sama sepertimu, terhadap anak. Juga cara pandang dalam memandang dan mengarungi dunia. Tapi aku gak bisa mengungkapkannya seperti untaian kalimatmu...

    Huhuhu... aku copas dech! hahaha...

    BalasHapus
  23. Melelehhh bacanya...bangga jadi jiwoo..aku kecil juga kayak jiwo, sering diajak jalan jalan sama ayah..walau cuma naik angkutan dan sepeda gowes gowes..

    BalasHapus
  24. Selamat! Ceritanya memang juara ini... ^_^

    BalasHapus
  25. Aku suka tulisannya mbaa! Akupun sama, pengen ajak anak seperti opanya mereka ajak aku jalan2. Tapi pasti beda rasa karena uangnya juga beda. Tapi intinya kan anak-anak mendapatkan pengalaman baru yang akan diingat sampai dewasa :)

    BalasHapus
  26. Meltinggg, jadi mau segera nyusul *eh nyusul apa dulu nih
    Selamat mba pungky, tulisannya juara!!!

    BalasHapus
  27. selamat yaaa..Jiwo, kamu beruntung punya bapak ibu yg sayang sama kamu :))

    BalasHapus
  28. Sama, Mbak. Anak-anakku kalau perjalanan antarkota cuma beberapa jam ya diajak naik kereta ekonomi aja, lagian mana ada kereta eksekutif mandeg di Stasiun Pemalang. Btw, jadi pengen nyobain nginep di hotel-hotelnya ZenRooms nih :)

    BalasHapus
  29. Postingan cakep banget ini. Berbahagialah Jiwo yang memiliki ibu dan bapak luar biasa. Berkah.

    BalasHapus
  30. Ini indah banget Pungky
    Selamat ya! JUARA banget, sangat juara :)

    bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus
  31. Selamat ya Mbak, tulisannya daleeem bangett. Di beberapa sisi kita sama, di sisi lain aku merasa tersentil he3

    BalasHapus
  32. Horeee, selamat mak pung n jiwoooo

    BalasHapus
  33. Duuh kisahnya menyentuh sekali

    BalasHapus